Fitnah Terhadap Paus Liberius Oleh Kelompok Pembangkang
![]() |
| Paus Liberius |
Ketika umat Katolik terlibat debat dengan umat Protestan atau Ortodoks Timur mengenai infalibilitas (ketidaksesatan) Paus, topik tentang "kemurtadan" Paus Liberius hampir selalu diangkat. Sebagai contoh, dalam polemik anti-Katoliknya yang berjudul "The Rise and Fall of the Papacy", seorang apologet populer Ortodoks, Craig Truglia, menyebut Paus Liberius sebagai orang yang telah melakukan "kemurtadan" karena menandatangani "Kredo yang berbau Arianisme."
Ini adalah tuduhan yang sangat serius (terutama mengingat bahwa Gereja Ortodoks Timur sendiri menghormati Paus Liberius sebagai seorang santo), tetapi Truglia tidak sendirian; para teolog Protestan pun sejalan dengannya. Justo Gonzalez, seorang akademisi Metodis, menyatakan hal senada: "Bahkan... Liberius (Uskup Roma) menandatangani pengakuan iman Arian."Banyak apologet menggunakan klaim kemurtadan Paus Liberius ini sebagai bukti bahwa Paus bisa sesat. Jika seorang Paus saja menandatangani kredo sesat, bukti apa lagi yang kita butuhkan?
Namun, seperti yang akan kamu lihat, kisah sebenarnya jauh lebih mendalam dari itu. Paus Liberius menjabat sebagai Uskup Roma dari tahun 352 hingga 366 M. Ia memimpin Gereja di masa-masa penuh pergolakan, di mana kontroversi Arianisme memicu perpecahan yang hebat. Kaum Arian, yang mengajarkan bahwa Yesus adalah ciptaan yang pertama (bukan sehakikat/konsubstansial dengan Bapa), sebenarnya telah dikalahkan dalam Konsili Ekumenis Katedral Nikea yang Pertama pada tahun 325. Namun, mereka bangkit kembali dengan kuat berkat dukungan Kaisar Konstantinus II, putra Konstantinus Agung, yang sangat gencar mempromosikan ajaran Arian tersebut. Konstantinus ingin para pemimpin Kristen pro-Nikea menyetujui kredo yang bisa diterima oleh kaum Arian, dan ia tidak segan-segan menggunakan kekerasan demi mencapai tujuan itu.
Di pihak anti-Arian/pro-Nikea, berdirilah Santo Atanasius dari Aleksandria beserta banyak uskup Barat, termasuk Paus Liberius. Konstantinus mencoba segala cara untuk membungkam Atanasius, tetapi gagal. Atanasius berulang kali melarikan diri ke pengasingan, bersembunyi di jaringan sahabat-sahabat monastiknya di padang gurun. Karena gagal membungkam Atanasius, Konstantinus mengalihkan sasarannya kepada para uskup lain. Ia memaksa mereka menyetujui pernyataan dan kredo yang memberi ruang bagi Arianisme. Mereka yang menolak langsung diasingkan atau dijebloskan ke penjara.
Di tengah penganiayaan ini, Paus Liberius menulis surat-surat yang menguatkan para uskup di pengasingan dan menyatakan solidaritasnya bersama mereka. Liberius adalah pembela Atanasius yang konsisten dan tangguh. Berulang kali ia berbicara membela Atanasius, ortodoksi (iman yang benar), dan rumusan Nikea. Pada tahun 353, ia menulis surat kepada kaisar untuk menegaskan kembali dukungan Roma kepada Atanasius. Ia bahkan menantang kaisar untuk menguji kembali Konsili Nikea dengan menggelar konsili baru, ia sangat yakin bahwa iman yang benar akan menang.
Kaisar, yang sadar betul bahwa persetujuan Roma mutlak diperlukan bagi agendanya, pertama-tama mencoba menyuap Liberius. Upaya ini gagal total. Liberius menolak suap tersebut, menuntut agar Atanasius diizinkan kembali dengan aman, dan menyatakan bahwa hanya Gereja yang berhak mengadili kasusnya. Tidak tanggung-tanggung, ia bahkan menuntut agar para uskup Arian yang diangkat oleh Konstantinus segera dicopot dari jabatannya. Karena suapnya ditolak, Konstantinus beralih menggunakan kekerasan. Ia memerintahkan agar Liberius ditangkap dan ditawan.
![]() |
| Liberius ditangkap dan diseret ke hadapan Kaisar. |
Ketika Liberius ditangkap dan diseret ke hadapan Kaisar, ia berbicara dengan berani. Ia memperingatkan Konstantinus untuk berhenti melawan Allah dan menyatakan bahwa dirinya siap diasingkan. Sekali lagi, ia menolak untuk mengutuk Atanasius. Ia menuntut agar para uskup yang diasingkan dipulangkan. Begitu menyadari bahwa Liberius tidak akan goyah, Konstantinus mengasingkannya ke Berea di Thrace pada tahun 355.
Konstantinus kemudian mencoba mengangkat seorang antipaus Arian, tetapi umat beriman di Roma menolak keras untuk mengakui atau menerimanya. Ketika kaisar mengunjungi kota tersebut, ia tampaknya sangat terenyuh melihat kesetiaan umat yang begitu kuat kepada Liberius dan mendengar doa-doa yang mereka panjatkan untuk sang Paus. Pembelaan berani Liberius terhadap iman yang benar justru merusak agenda Arian milik Konstantinus, dan sang kaisar sadar bahwa tindakan agresifnya malah menjadi senjata makan tuan. Akhirnya, pada tahun 357, ia mengizinkan Liberius untuk kembali.
Liberius telah menang. Antipaus Arian diusir, dan Kaisar Konstantinus terpaksa mundur. Atau benarkah demikian? Justru situasi di balik kepulangan Liberius inilah yang memicu munculnya desas-desus. Mungkinkah seorang kaisar yang begitu berkuasa dan keras kepala mau mengalah begitu saja tanpa ada konsesi atau kompromi sedikit pun dari Liberius?
Seorang sejarawan Arian abad keempat bernama Filostorgius menyatakan bahwa Liberius dipulangkan hanya setelah ia bersedia menandatangani "rumusan kedua Sirmium", sebuah dokumen yang menghapus istilah khas Arian maupun ortodoks dari kredo. Santo Hilarius dari Poitiers (310–367) tampaknya membenarkan tuduhan ini dalam tiga suratnya. Santo Hieronimus (wafat 420) juga tampaknya memercayai klaim yang menyudutkan Liberius ini. Bahkan Santo Atanasius sendiri pernah menulis: "Liberius, setelah diasingkan, menyerah setelah dua tahun, dan karena takut akan ancaman hukuman mati, ia menandatanganinya."
Jika Liberius memang menandatangani sesuatu, apa sebenarnya yang ia tanda tangani? Filostorgius (seorang Arian) mengklaim bahwa Liberius menandatangani pernyataan yang jelas-jelas sesat (rumusan kedua Sirmium), tetapi sebagai seorang Arian, kesaksian Filostorgius tentu sangat bias. Baik Atanasius maupun Hieronimus tidak menegaskan bahwa Liberius menandatangani rumusan kedua Sirmium tersebut. Pernyataan Atanasius tampaknya hanya mengindikasikan bahwa Liberius telah mengutuk Atanasius (tanpa menyebutkan rumusan kredo apa pun). Santo Hieronimus tidak merinci lebih lanjut selain mengatakan bahwa ia tunduk pada "kejahatan sesat". Sementara itu, sejarawan awal abad kelima, Salminius Hermias Sozomen, mengklaim bahwa Liberius dipaksa menandatangani tiga rumusan yang sebenarnya tidak sepenuhnya sesat, dan ia menambahkan catatan bahwa Liberius berhasil menegosiasikan pilihan kata yang lebih ortodoks di beberapa bagian. Jika catatan ini benar, Liberius tidak menandatangani sesuatu yang terang-terangan sesat; ia hanya menandatangani pernyataan yang bahasanya sengaja dibuat samar-samar mengenai isu-isu yang memisahkan uskup ortodoks dan Arian. Kendati demikian, beberapa sejarawan modern menemukan ketidaksesuaian dalam kronologi waktu yang dipaparkan Sozomen, sehingga validitas detail mengenai apa yang ditandatangani itu patut dipertanyakan.
Bagaimana jika klaim yang menyudutkan Paus Liberius itu hanyalah rumor palsu? Jika kita mengesampingkan klaim bias dari pihak Arian, mengapa tokoh sekaliber Santo Hilarius, Santo Atanasius, dan Santo Hieronimus menyatakan bahwa Liberius telah berkompromi jika hal itu tidak benar-benar terjadi? Banyak orang langsung menepis kemungkinan adanya kekeliruan di sini. Ketiga orang kudus tersebut adalah pembela setia iman Nikea yang tentu tidak punya alasan untuk mencoreng nama baik seorang Paus yang selama ini menjadi pendukung utama perjuangan mereka. Namun, ada alasan kuat untuk meyakini bahwa mereka mungkin telah termakan "berita bohong" (fake news) tentang Liberius.
Di dalam lingkaran Gereja Perdana sendiri, ada sekelompok penganut garis keras (rigoris) yang sangat memusuhi Paus Liberius. Mereka disebut kelompok "Luciferian", mengikuti nama pemimpin mereka, Uskup Lucifer dari Cagliari (nama Lucifer baru dikaitkan dengan Iblis jauh di kemudian hari dalam sejarah Gereja). Kelompok Luciferian ini tidak menyukai Paus Liberius karena sang Paus mengulurkan belas kasih (rekonsiliasi) kepada para uskup yang sempat tunduk pada tekanan untuk menandatangani pernyataan ajaran sesat (Arianisme); Liberius mengizinkan mereka kembali ke takhta keuskupan mereka dan menerima pembaptisan yang telah dilakukan oleh kaum Arian. Untuk menjatuhkan Liberius, mereka menyebarkan surat-surat yang diklaim berasal dari Paus Liberius sendiri yang kini kita ketahui sebagai surat palsu (pemalsuan dokumen) di mana dalam surat itu seolah-olah Liberius mengaku telah berkompromi dengan kaum Arian. Kelompok Luciferian berharap dengan Menuduh Liberius sebagai penyesat, mereka dapat memakzulkannya dari takhta kepausan dan menggantinya dengan seseorang yang sejalan dengan pendekatan kaku mereka terhadap mantan penganut Arian.
![]() |
| Luciferian berseberangan dengan Paus Liberius. |
Surat-surat palsu inilah yang tampaknya dianggap asli oleh Santo Hilarius ketika ia menulis surat-surat dari pengasingannya yang menuduh Liberius menyerah. Namun, setelah masa pengasingannya berakhir, Hilarius justru membantah tuduhan kelompok Luciferian terhadap Liberius dan bersusah payah membuktikan bahwa surat-surat tersebut adalah palsu. Sejak saat itu dan seterusnya, komentar-komentarnya mengenai Liberius selalu bernada pujian tinggi tanpa pernah lagi menyinggung soal "kejatuhan" sang Paus. Semua ini adalah tindakan dari seorang pria yang tampaknya telah sepenuhnya menolak gagasan bahwa Paus Liberius pernah goyah.
Lalu bagaimana dengan Santo Atanasius? Santo Atanasius tampaknya sempat memercayai rumor tentang Liberius yang disebarkan secara luas oleh kaum Arian ketika ia berada di pengasingan dan sesaat setelahnya. Namun, tulisan-tulisannya yang dibuat di kemudian hari tidak menunjukkan adanya indikasi bahwa ia terus memercayai tuduhan tersebut. Di sisi lain, Santo Hieronimus tidak berhasil diyakinkan bahwa surat-surat yang disimpulkan palsu oleh Hilarius itu memang benar-benar palsu, sehingga tuduhannya terhadap Paus Liberius tampaknya murni didasarkan pada dokumen palsu tersebut.
Di luar itu, ada banyak saksi sejarah yang mendukung kesucian dan tidak bersalahnya Paus Liberius. Rufinus, seorang rahib abad keempat sekaligus sahabat Santo Hieronimus, tahu betul bahwa surat-surat itu palsu dan menyatakan bahwa ia sendiri tidak tahu pasti apakah Liberius memang pernah goyah atau tidak. Ia tampaknya heran dengan keyakinan Hieronimus, karena tahu adanya pemalsuan dokumen tersebut dan tidak tahu sumber apa yang dipegang oleh Hieronimus. Pada tahun 403, Santo Sulpisius Severus menyatakan bahwa alasan pemulangan Liberius adalah karena pemberontakan rakyat Roma melawan Kaisar, dan ia sama sekali tidak menyinggung soal kejatuhan Liberius. Santo Ambrosius pun mencatat Liberius sebagai seorang pria yang kudus.
Namun, mungkin bukti terbesar dari ketidakbersalahan Paus Liberius adalah sikap bungkam dari Kaisar Konstantinus sendiri dalam masalah ini. Jika tujuan utama dari seluruh kampanye kaisar melawan Liberius adalah untuk membuatnya mencela Atanasius di depan umum dan menghentikan retorika anti-Arianismenya, mengapa kaisar tidak memublikasikan secara besar-besaran jika Liberius memang benar-benar telah melakukan hal itu?
Pada akhirnya, semua hal yang kita ketahui secara pasti tentang Paus Liberius, baik sebelum maupun sesudah masa pengasingannya, menunjukkan bahwa ia adalah sosok yang berani, ortodoks, dan siap menderita demi iman. Sekembalinya dari pengasingan, Paus Liberius tetap sama seperti sebelum ia pergi. Ia terus berjuang demi iman yang benar dan membela para uskup ortodoks. Sama sekali tidak ada indikasi bahwa ia telah berkompromi. Yang patut dicatat, tidak pernah ada pengakuan dosa di depan umum atau ritus pertobatan dari pihaknya. Paus Liberius tidak pernah menunjukkan gelagat sekecil apa pun bahwa sebuah kompromi telah terjadi.
Jika kita merangkum seluruh bukti yang ada, klaim bahwa Liberius menandatangani dokumen yang tidak ortodoks hampir bisa dipastikan adalah keliru. Liberius adalah pembela ortodoksi yang tangguh di sepanjang masa kepausannya. Ia menyemangati mereka yang berada di pengasingan dan berkali-kali berdiri tegak menentang kaisar. Gagasan bahwa ia menyerah pada tekanan, bukan karena siksaan fisik melainkan hanya karena tidak betah di pengasingan, sangatlah bertolak belakang dengan karakter aslinya berdasarkan semua rekam jejak historis yang kita miliki. Tuduhan terhadap dirinya tampaknya murni bersumber dari rumor yang diembuskan kaum Arian dan surat-surat yang jelas-jelas dipalsukan. Para kritikus ortodoksnya (Hilarius, Atanasius, dan Hieronimus) tampaknya sempat terkecoh (untuk sementara waktu) oleh dokumen-dokumen palsu tersebut.
Namun, bahkan jika kamu menolak interpretasi sejarah yang menurut saya paling masuk akal ini dan tetap menganggap bahwa ia memang sempat menyerah, tuduhan terburuk yang bisa dialamatkan kepadanya hanyalah bahwa ia sempat melemah untuk sementara waktu di bawah tekanan berat dan menandatangani dokumen yang bahasa hukumnya tidak secara eksplisit sesat. Tidak ada bukti sama sekali bahwa ia memaklumkan atau mempromosikan ajaran sesat tersebut. Skenario terburuk ini pun sama sekali tidak menggoyahkan doktrin infalibilitas kepausan.
Oleh karena itu, fitnah kaum Protestan dan Ortodoks terhadap Paus Liberius harus ditolak. Paus Liberius adalah benteng ortodoksi yang kokoh di zaman ketika mempertahankan iman adalah perkara yang sangat sulit. Liberius memang tidak pernah dikanonisasi sebagai santo oleh Gereja Katolik (kemungkinan besar karena desakan Santo Hieronimus yang telanjur percaya akan kejatuhannya), tetapi saya rasa Gereja Ortodoks Timur telah menilainya dengan tepat dalam hal ini: ia adalah seorang pria kudus yang berjasa besar dalam menjaga Gereja serta memperjuangkan apa yang baik dan benar.
Daftar Sumber
- Schaff, Philip - History of the Christian Church, Volume IV: Mediaeval Christianity. Teks asli yang membahas bab sejarah kepausan & perdebatan yurisdiksi yang dikutip Truglia pada halaman 200. Link.
- Truglia, Patrick (Craig) - The Rise and Fall of the Papacy: An Orthodox Perspective. Halaman 200. Link.
- Gonzales, Justo - The Story of Christianity: Volume 1. Harper (1984). Halaman 167. Link.
- New Advent - Pope Liberius. Catholic Encyclopedia. Sumber utama teks kuno dan analisis sejarah Katolik mengenai dokumen tuduhan kelompok Luciferian dan Arianisme. Link
- New Advent - Historical Documents on the Arian Controversy. Kumpulan teks dan surat-surat dari Santo Atanasius, Santo Hilarius, dan Santo Hieronimus yang dibahas di dalam tulisan. Link.
- Anianus / Chanceries Sources - The Decrees and Letters of Pre-Schism Popes. Koleksi dokumen primer abad ke-9 mengenai korespondensi kepausan dan Anastasius sang Pustakawan yang menjadi basis data Truglia. Link.





Komentar
Posting Komentar