Roma Sebagai Satu-Satunya Patriarkat Apostolik Orisinal Yang Tersisa
![]() |
| Paus Leo XIV & Patriark Ekumenis Bartolomeus I |
Dalam diskusi mengenai sejarah Gereja, sering muncul klaim dari pihak Ortodoks Timur bahwa Gereja mula-mula dipimpin oleh sebuah "Pentarki" (lima patriarkat) dan Roma hanyalah salah satu dari lima yang kemudian memisahkan diri. Namun, tinjauan mendalam terhadap kanon-kanon konsili ekumenis awal dan realitas sejarah menunjukkan bahwa narasi "empat melawan satu" ini secara historis tidak akurat. Faktanya, Roma adalah satu-satunya Patriarkat orisinal yang memiliki kesinambungan apostolik dan ortodoksi yang tak terputus hingga saat Skisma 1054.
Dasar Kanonis Yaitu Tiga, Bukan Lima
Gagasan tentang lima patriarkat yang setara tidak ditemukan dalam Konsili Ekumenis pertama. Konsili Nikea I (325 M), dalam Kanon 6, hanya mengakui tiga pusat utama berdasarkan "adat kebiasaan kuno": Aleksandria, Antiokhia, dan Roma.
Kanon tersebut menyatakan:
"Biarlah adat kebiasaan kuno di Mesir, Libya, dan Pentapolis tetap berlaku, agar Uskup Aleksandria memiliki yurisdiksi atas semua ini, karena hal yang serupa juga merupakan kebiasaan bagi Uskup Roma. Demikian pula di Antiokhia... biarlah Gereja-gereja mempertahankan hak-hak istimewa mereka".
Penting untuk dicatat bahwa Nikea I tidak "menciptakan" patriarkat ini, melainkan mengakui otoritas yang sudah ada berdasarkan tradisi rasuli. Yerusalem dan Konstantinopel sama sekali tidak masuk dalam daftar yurisdiksi utama ini pada tahun 325 M.
![]() |
| Patriarkat Yerusalem |
Yerusalem dan Konstantinopel Merupakan Patriarkat Yang "Diciptakan" Politik
Status Yerusalem dan Konstantinopel sebagai patriarkat muncul jauh belakangan dan melalui proses yang sangat dipengaruhi oleh dinamika politik kekaisaran, bukan semata-mata suksesi apostolik purba.
- Yerusalem (Aelia) - Pada Nikea I, Yerusalem (saat itu disebut Aelia) hanya diberikan "tempat kehormatan" (Kanon 7) dengan tetap tunduk pada otoritas Metropolisnya (Kaisarea). Yerusalem baru diangkat menjadi patriarkat pada Konsili Kalsedon (451 M) setelah manuver politik Uskup Juvenal yang memanfaatkan dukungan Kaisar Theodosius II.
- Konstantinopel - Kota ini bahkan tidak ada sebagai pusat gerejawi pada zaman para rasul. Statusnya baru muncul dalam Konsili Konstantinopel I (381 M). Kanon 3 dari konsili tersebut menyatakan bahwa Uskup Konstantinopel harus memiliki "hak istimewa kehormatan setelah Uskup Roma" karena kota itu adalah "Roma Baru".
Argumen untuk Konstantinopel murni bersifat politis: karena kaisar tinggal di sana, maka uskupnya harus terhormat. Klaim bahwa St. Andreas mendirikan takhta di sana adalah tradisi yang muncul belakangan (sekitar abad ke-9) untuk menyaingi klaim apostolik Roma, Aleksandria, dan Antiokhia.
![]() |
| Kaisar Ottoman Mehmed II dan Patriark Ekumenis Gennadius Scholarius. |
Kehancuran Patriarkat Orisinal di Timur
Argumen yang paling menentukan adalah nasib dua patriarkat orisinal lainnya di Timur, yaitu Aleksandria dan Antiokhia. Setelah Konsili Kalsedon (451 M), terjadi perpecahan besar. Mayoritas umat dan hierarki di Aleksandria dan Antiokhia menolak Kalsedon dan membentuk apa yang sekarang kita kenal sebagai Gereja Ortodoks Oriental (Non-Kalsedonian).
Akibatnya:
- Patriarkat "orisinal" di kota-kota tersebut secara teknis memisahkan diri dari persekutuan Gereja Katolik/Kalsedonian.
- Struktur "Ortodoks Timur" yang ada di Aleksandria dan Antiokhia saat ini adalah struktur yang didirikan kembali atau dipulihkan melalui campur tangan Kaisar Bizantium (sering disebut kaum Melkit atau orang-orang kaisar) untuk menggantikan hierarki yang telah menjadi non-Kalsedonian.
Dengan demikian, pada saat Skisma 1054, patriarkat Aleksandria, Antiokhia, dan Yerusalem di blok Timur hanyalah bayang-bayang dari masa lalu mereka, yang sangat bergantung pada perlindungan politik Konstantinopel.
Roma, Kesinambungan Yang Tak Tergoyahkan
Berbeda dengan takhta-takhta di Timur, Roma tetap mempertahankan kesinambungan yang unik:
- Dasar Apostolik - Roma didirikan dan dibangun di atas kesaksian dua rasul utama, Petrus dan Paulus.
- Konsistensi Doktrinal - Sepanjang krisis bidat besar (Arianisme, Nestorianisme, Monofisitisme), Roma secara konsisten menjadi jangkar ortodoksi. Paus sering kali menjadi tempat banding terakhir bagi para uskup Timur yang dianiaya.
- Kemandirian dari Kaisar - Sementara patriarkat Timur sering kali menjadi alat politik kaisar di Konstantinopel, Roma mempertahankan otonominya, yang memungkinkan suksesi kepemimpinannya tetap murni gerejawi.
Kesimpulan
Oleh karena itu, narasi bahwa Roma memisahkan diri dari "empat patriarkat lainnya" mengabaikan fakta bahwa tiga dari patriarkat tersebut (Konstantinopel, Yerusalem, dan struktur Kalsedonian di Aleksandria/Antiokhia) adalah entitas yang statusnya sangat bergantung pada tatanan politik Bizantium yang baru.
Roma adalah satu-satunya dari tiga Patriarkat orisinal (NiKea I) yang tetap berdiri teguh dalam ortodoksi dan suksesi apostolik yang tidak terputus sejak zaman para rasul hingga milenium kedua. Skisma 1054 bukanlah "satu melawan empat", melainkan satu-satunya Takhta Apostolik orisinal yang tersisa melawan sistem gerejawi yang telah direorganisasi demi kepentingan politik kekaisaran.
Daftar Sumber
- Sumber Kanon Gereja Mula-mula (Hukum Gereja)
- Konsili Nikea I (325 M)
- Kanon 6: Ini adalah sumber utama untuk klaim "Tiga Patriarkat Orisinal". Teks aslinya mengakui otoritas khusus bagi Roma, Aleksandria, dan Antiokhia.
- Kanon 7: Sumber mengenai status Yerusalem (Aelia) yang saat itu hanya diberikan penghormatan khusus tetapi tetap di bawah pengawasan Metropolitan Kaisarea.
- Konsili Konstantinopel I (381 M)
- Kanon 3: Menyatakan bahwa Uskup Konstantinopel memiliki hak kehormatan setelah Roma karena kota tersebut adalah "Roma Baru". Ini sering digunakan untuk menunjukkan bahwa status Konstantinopel bersifat politis (karena status kota sebagai ibu kota baru), bukan karena asal-usul apostolik purba.
- Konsili Kalsedon (451 M)
- Sesi VII: Mencatat kesepakatan yang mengangkat Yerusalem menjadi Patriarkat setelah negosiasi panjang antara Uskup Juvenal dari Yerusalem dan Maximus dari Antiokhia.
- Kanon 28: Kanon kontroversial (yang ditolak oleh Paus Leo Agung) yang mencoba menyetarakan hak istimewa Konstantinopel dengan Roma.
- Sumber Patristik (Tulisan Bapa Gereja)
- St. Irenaeus dari Lyon. Against Heresies / Adversus Haereses, Buku III, Bab 3, Sekitar 180 M): Beliau menyatakan bahwa semua gereja harus setuju dengan Roma karena "asal-usulnya yang lebih unggul" dan menyebutkan bahwa Roma didirikan oleh Petrus dan Paulus.
- Surat-surat Paus Leo Agung (Abad ke-5). Khususnya surat yang menolak Kanon 28 Kalsedon, di mana beliau menegaskan bahwa struktur gerejawi harus didasarkan pada prinsip Petrin (apostolik), bukan pada status politik kota. Link. Link.
- St. Hieronimus (Abad ke-4/5) dalam surat-suratnya, ia sering merujuk pada takhta Roma sebagai batu karang iman selama krisis Arianisme. Link.
- Sumber Sejarah Mengenai Skisma Kalsedonian (Pasca 451 M)
- Sejarah Gereja Non-Kalsedonian. Catatan sejarah mengenai pemisahan Gereja Koptik (di Mesir) dan Gereja Siria (di Antiokhia) dari persekutuan Kekaisaran (Bizantium) setelah Konsili Kalsedon. Hal ini menegaskan bahwa patriarkat Kalsedonian di wilayah tersebut kemudian menjadi "Melkit" (orang-orang raja/kaisar). Link.
- Analisis Historis Modern




Komentar
Posting Komentar