Radio Stream 24/7 Online Everyday!

Install & Embed Radio Telunjuk

Rosario 20:00 >> Peristiwa Gembira: Senin & Sabtu - Peristiwa Sedih: Selasa & Jumat - Peristiwa Mulia: Rabu & Minggu - Peristiwa Terang: Kamis.
• Kerahiman Ilahi 15:00 • Omphaloscopa (Tikam/Tombak) 03:00 • Angelus 06:00, 12:00 & 18:00

Diskriminasi Gender di Kubur Yesus?

Perjumpaan dengan Yesus
Perjumpaan dengan Yesus

Kutipan Alkitab (Yohanes 20:16-18):

"Kata Yesus kepadanya: 'Maria!' Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: 'Rabuni!', artinya Guru. Kata Yesus kepadanya: 'Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapa-mu, kepada Allah-Ku dan Allah-mu.' Maria Magdalena datang dan memberitahukan kepada murid-murid: 'Aku telah melihat Tuhan!' dan juga dikatakan-Nya rangkaian perkataan itu kepadanya."

Terjemahan Yang Kurang Tepat?

Perkataan Yesus dalam teks asli Yunani adalah Mē mou haptou (μὴ μου ἅπτου). Seringkali, terjemahan Indonesia seperti LAI menerjemahkannya sebagai "Janganlah engkau memegang Aku". Secara teknis, terjemahan ini terlalu literal, sehingga kehilangan nuansa teologisnya:

Kata kerja haptomai dalam bentuk present imperative tidak merujuk pada tindakan sekali sentuh (aorist), melainkan menyiratkan tindakan yang sedang atau terus-menerus dilakukan (continuous action).Oleh karena itu, Mē mou haptou berarti "Janganlah terus-menerus menahan Aku". Yesus tidak sedang melarang Maria menyentuh-Nya karena Maria seorang wanita; Ia menegur keinginan Maria untuk menahan Yesus tetap dalam dimensi kehidupan lama (kehadiran fisik).

Penerjemahan LAI bersifat Formal Equivalence (literal) yang berusaha setia pada struktur kata, namun seringkali mengabaikan nuansa teologis sehingga rentan membawa kesesatan karena kesalahan tafsir pada masing-masing individu bahkan setingkat pengajar. Gereja Katolik menggunakan teks ini dalam semangat ekumenis, namun tetap memandangnya dalam terang Tradisi Suci. Umat Katolik tidak membaca Alkitab sendirian, melainkan dalam bimbingan ajaran Gereja yang memberikan konteks historis dan patristik yang utuh.

Momen Pengenalan dan Transformasi Iman

Perjumpaan ini adalah sebuah momen didaktik (pengajaran). St. Thomas Aquinas menjelaskan bahwa ketika Yesus memanggil nama "Maria", terjadi pemulihan penglihatan iman. Maria beralih dari salah mengenali Yesus sebagai tukang kebun, menjadi mengenali-Nya sebagai Rabuni.

St. Agustinus dari Hippo menegaskan bahwa larangan "menahan" itu adalah pelajaran agar iman Maria tidak terkurung pada cara lama. Yesus ingin agar Maria percaya bahwa Ia adalah Tuhan yang sedang naik kepada Bapa, yang kehadiran-Nya melampaui sentuhan fisik semata. Larangan ini adalah pelajaran iman, bukan larangan gender atau diskriminasi.

Mengapa "Bapa-Ku dan Bapa-mu"?

Yesus sengaja tidak menggunakan istilah "Bapa kita" untuk menunjukkan keunikan hubungan-Nya dengan Allah.

St. Cyril dari Yerusalem dan St. Yohanes Krisostomus menegaskan bahwa Bapa adalah Bapa-Nya secara kodrat (sehakikat), sedangkan bagi kita adalah Bapa secara adopsi/rahmat. Yesus tidak sedang memilah, melainkan menegaskan bahwa melalui kebangkitan-Nya, Ia memberikan partisipasi kepada manusia dalam hubungan ilahi tersebut.


Maria Magdalena sang Apostola Apostolorum
Maria Magdalena sang Apostola Apostolorum

Martabat Perempuan Dalam Apostola Apostolorum

Tuduhan diskriminasi terhadap wanita dalam ayat ini runtuh oleh fakta bahwa Maria Magdalena diangkat sebagai Apostola Apostolorum (Rasul bagi para Rasul).

St. Yohanes Paulus II dalam Mulieris Dignitatem menegaskan peran unik perempuan di makam: mereka adalah yang pertama mendengar kabar kebangkitan dan yang pertama diutus kepada para Rasul.

Dokumen Kongregasi Ibadat Ilahi (2016) mengukuhkan status ini sebagai pengakuan resmi Gereja atas martabat perempuan dalam penginjilan. Jika Yesus memandang wanita sebagai sosok yang "najis", Ia tidak akan memberikan mandat kerasulan yang begitu vital kepada Maria.

Kain kafan Yesus yang terlipat rapi
Kain kafan Yesus yang terlipat rapi

Tanda Otoritas Ilahi Pada Kerapian Kain Kafan

Kerapian kain kafan di makam (Yohanes 20:6-7) adalah detail penting. St. Yohanes Krisostomus menafsirkan kain yang tergulung dan terpisah tersebut sebagai tindakan yang sangat teliti, bukan tindakan orang yang panik. Ketelitian itu adalah bukti bahwa kebangkitan Kristus adalah karya Allah yang penuh keteraturan dan otoritas ilahi. Kristus keluar dari makam dengan tenang, membuktikan bahwa Ia tidak lagi terikat oleh kefanaan.

Kesimpulan dari pembahasan kita kali ini mengenai perjumpaan di taman itu bukanlah tentang larangan fisik, melainkan tentang transformasi iman. Yesus menghendaki agar kita, seperti Maria Magdalena, tidak lagi terkurung pada cara pandang lama, melainkan menjadi saksi yang diutus untuk membawa kabar sukacita bahwa Allah kini telah menjadi Bapa kita melalui Yesus Kristus yang bangkit dan naik ke surga. Memahami Alkitab dengan kacamata Tradisi Gereja memungkinkan kita melampaui batas-batas terjemahan literal dan menangkap pesan kasih Kristus yang sejati bagi semua umat-Nya.

Daftar Sumber

  • St Thomas Aquinas (1265-1274) - Summa Theologiae (Tafsiran atas Yohanes 20). Link
  • St Agustinus dari Hippo (416-417) - In Iohannis Evangelium Tractatus (Tractates on the Gospel of John, 121). Link
  • St Cyril dari Yerusalem (350) - Catechetical Lectures (Lecture 14: On the Resurrection). Link
  • St Gregorius Agung (590-604) - Homiliae in Evangelia (Homily 25). Link
  • Kongregasi Ibadat Ilahi dan Tata Tertib Sakramen (2016) - Maria Magdalena, Apostolorum Apostola. Link
  • St Yohanes Paulus II (1988) - Mulieris Dignitatem (Tentang Martabat dan Panggilan Wanita). Link
  • St Yohanes Krisostomus (390) - Homilies on the Gospel of John (Homily 86). Link

Patung/Pajangan
Rohani Kecil Katolik

Patung/Pajangan Rohani Kecil Katolik


Salib Benedictus

Salib Benedictus

Komentar

download ebook pdf gratissiaran podcast

SIARAN PODCAST!

Postingan Populer