Radio Stream 24/7 Online Everyday!

Install & Embed Radio Telunjuk

Rosario 20:00 >> Peristiwa Gembira: Senin & Sabtu - Peristiwa Sedih: Selasa & Jumat - Peristiwa Mulia: Rabu & Minggu - Peristiwa Terang: Kamis.
• Kerahiman Ilahi 15:00 • Omphaloscopa (Tikam/Tombak) 03:00 • Angelus 06:00, 12:00 & 18:00

Paus Fransiskus Tidak Merestui Pernikahan Sesama Jenis

Fiducia Supplicans merupakan penegasan atas doktrin yang tak pernah berubah
Fiducia Supplicans adalah penegasan atas doktrin yang tak pernah berubah.

Kenapa Semua Orang Salah Memahami Fiducia Supplicans

Coba bayangkan, seandainya besok Paus Leo XIV (pengganti Paus Fransiskus yang menjabat setelah beliau wafat pada 2025) mengeluarkan pernyataan yang isinya:

  • Menegaskan bahwa pernikahan adalah “ikatan eksklusif, stabil, dan tak terceraikan antara pria dan wanita, yang secara alami terbuka untuk kelahiran anak.”
  • Menyatakan bahwa “hanya hubungan seksual yang dijalani dalam ikatan pernikahan yang dianggap sah secara moral.”
  • Menegaskan bahwa Gereja menganggap ajaran ini sebagai sesuatu yang “tegas/mutlak.”
  • Dan menyatakan bahwa “Gereja tidak memiliki kuasa untuk memberikan berkat liturgis jika hal itu justru memberi legitimasi moral pada persatuan yang dianggap sebagai pernikahan atau praktik seksual di luar nikah.”

Jika Leo mengeluarkan pernyataan seperti itu, kaum Katolik konservatif pasti akan bersorak kegirangan karena merasa Paus Fransiskus yang mereka anggap “membingungkan” dan “liberal” sudah digantikan oleh paus baru yang lebih konservatif. Sebaliknya, kaum progresif pasti akan merasa sedih karena merindukan Paus Fransiskus yang mereka anggap lebih welas asih.

Namun, ada masalah besar di sini: semua pernyataan di atas sebenarnya sudah disampaikan oleh Vatikan pada tahun 2023 di bawah kepemimpinan Paus Fransiskus. Anehnya, pernyataan tersebut justru muncul dalam dokumen yang oleh dunia internasional malah dianggap sebagai pelonggaran drastis ajaran Katolik terkait seksualitas.

Paus Fransiskus mengangkat teolog progresif asal Argentina, Kardinal Víctor Manuel "Tucho" Fernández, sebagai Prefek Dikasteri untuk Ajaran Iman pada Juli 2023
Paus Fransiskus mengangkat teolog progresif asal Argentina, Kardinal Víctor Manuel "Tucho" Fernández, sebagai Prefek Dikasteri untuk Ajaran Iman pada Juli 2023.

Pada Desember 2023, dunia Katolik diguncang oleh berbagai judul berita bombastis. CNN menulis, “Paus Fransiskus mengizinkan berkat bagi pasangan sesama jenis.” Reuters menulis, “Vatikan menyetujui berkat bagi pasangan sesama jenis dalam aturan bersejarah.”

Kala itu, Dikasteri untuk Ajaran Iman (DDF) Vatikan baru saja merilis dokumen berjudul Fiducia Supplicans: Tentang Makna Pastoral dari Berkat. Orang-orang langsung terpaku pada separuh kalimat di paragraf 31 yang berbunyi, “Dalam cakrawala yang digariskan di sini, muncul kemungkinan berkat bagi pasangan dalam situasi tidak teratur dan bagi pasangan sesama jenis…” Jika diambil di luar konteks, kalimat ini seolah menjadi lampu hijau untuk merestui pasangan gay. Kesimpulan logisnya (seperti yang terlihat dari hampir semua reaksi publik) adalah Vatikan telah membuka pintu bagi semacam bentuk pernikahan sesama jenis. Mereka menganggap berkat bagi pasangan gay sama saja dengan merestui hubungan dan pilihan seksual mereka, sekaligus merombak dasar doktrin Katolik.

Tapi, seperti yang sudah saya sebutkan di atas, dokumen yang sama juga menyatakan:

  • Pernikahan adalah “ikatan eksklusif, stabil, dan tak terceraikan antara pria dan wanita, yang secara alami terbuka untuk kelahiran anak.” (paragraf 4)
  • “Hanya hubungan seksual yang dijalani dalam ikatan pernikahan yang sah secara moral.” (paragraf 11)
  • Gereja menganggap ajaran ini “tegas.” (paragraf 4)
  • “Gereja tidak memiliki kuasa untuk memberikan berkat liturgis yang akan memberi legitimasi moral pada persatuan yang dianggap sebagai pernikahan atau praktik seksual di luar nikah.” (paragraf 11)
Gereja Katolik membedakan dengan sangat tegas antara "pemberkatan perkawinan" dan "pemberkatan individu"
Gereja Katolik bedakan dengan sangat tegas antara "pemberkatan perkawinan" & "pemberkatan individu"

Jadi, apa sebenarnya maksud dari paragraf 31 itu?

Pertama, selalu ada baiknya membaca satu kalimat utuh, bukan setengahnya saja. Paruh kedua dari kalimat tersebut menyatakan bahwa berkat bagi pasangan dalam situasi tidak teratur “tidak boleh diformalkan secara ritual oleh otoritas gerejawi agar tidak menimbulkan kerancuan dengan berkat yang layak bagi Sakramen Pernikahan.” Kemudian kalimat berikutnya menegaskan bahwa tujuan berkat tersebut adalah untuk “tidak mengklaim legitimasi atas status mereka sendiri.” Beberapa paragraf setelahnya juga diperjelas bahwa berkat ini tidak bisa dilakukan sebagai alternatif pernikahan. Dokumen itu menyatakan berkat tidak boleh dilakukan berbarengan dengan pernikahan sipil dan tidak boleh menggunakan pakaian atau tata cara yang terlihat seperti pernikahan (paragraf 39). Dalam dokumen terpisah, Vatikan bahkan mengklarifikasi bahwa berkat tidak boleh dilakukan di dalam gereja atau di depan altar.

Namun, bagi banyak orang, memberikan berkat kepada pasangan sesama jenis—apa pun alasannya—tetap saja dianggap melegitimasi status mereka, tidak peduli apa yang dikatakan Fiducia Supplicans. Banyak yang menantang saya, “Bagaimana mungkin berkat itu tidak dianggap melegitimasi?” Saya terima tantangan itu. Mari kita lihat skenario imajiner ini di mana pasangan gay diberkati, dan bahkan seorang Katolik paling konservatif pun tidak akan mempermasalahkannya.

Bayangkan seorang imam sedang memimpin paroki menuju sebuah tempat ziarah. Ketika sampai, di sana sudah ada sepasang wanita (lesbian) sedang berlutut. Salah satu dari mereka berdiri, menghampiri imam tersebut, dan memohon, “Tolong berikan kami berkat. Kami tidak bisa mendapat pekerjaan, pasangan saya sedang sangat sakit, kami tidak punya tempat tinggal, dan hidup kami sangat berat. Semoga Tuhan menolong kami!”

Imam itu tersenyum simpatik dan berkata, “Tuhan, pandanglah anak-anak-Mu ini, berikan mereka kesehatan, pekerjaan, kedamaian, dan saling membantu. Bebaskan mereka dari segala sesuatu yang bertentangan dengan Injil-Mu dan izinkan mereka hidup sesuai kehendak-Mu. Amin.”

Apakah ada yang keberatan dengan berkat seperti itu? Saya rasa tidak. Dan jika Anda tidak keberatan dengan berkat tersebut, maka Anda tidak bisa menolak konsep teoretis dari berkat non-liturgis bagi pasangan yang berada dalam hubungan yang tidak teratur atau sesama jenis.

Tapi, apakah ini benar-benar jenis berkat yang dimaksud Vatikan? Saya bisa katakan dengan yakin “ya”, karena contoh di atas diambil langsung dari klarifikasi yang diterbitkan oleh Kardinal Fernandez (Kepala DDF dan penulis Fiducia Supplicans) beberapa minggu setelah dokumen itu dirilis.

Orang-orang kemudian protes, “Imam selalu bisa melakukan berkat semacam itu. Mengapa mereka harus menerbitkan dokumen yang tidak mengubah apa pun?” Saya bingung dengan keberatan dari kaum Katolik tradisional ini. Jika Anda percaya bahwa ajaran Katolik tentang iman dan moral tidak bisa berubah, mengapa Anda mengharapkan dokumen apa pun dari DDF akan mengubah ajaran Gereja? Bukankah seharusnya setiap dokumen dari Vatikan bukanlah sebuah perubahan, melainkan klarifikasi atau penjabaran dari sesuatu yang selalu diajarkan? Karena itulah sebenarnya Fiducia Supplicans.

Lalu, apa yang diklarifikasi? Siapa yang bingung? Vatikan memang tidak menjawab langsung, tapi menurut saya ada petunjuk besarnya. Ingat konteks saat dokumen ini dirilis. Pada Maret 2023, Konferensi Waligereja Jerman sepakat “mengadopsi upacara formal untuk memberkati hubungan sesama jenis.” Coba perhatikan dua perbedaan dari pernyataan tersebut dengan apa yang tertulis di Fiducia Supplicans. Mereka memberkati hubungannya (bukan individunya) dan menjadikannya liturgis serta ritual (sesuatu yang dilarang keras oleh Fiducia Supplicans). Jerman melakukan ini sebagai bagian dari “Jalan Sinodal” mereka—sebuah eksperimen sinodal yang memberikan kuasa doktrin kepada kaum awam—yang ditentang oleh Paus Fransiskus (dan penerus kepausannya, Robert Prevost). Singkatnya, pihak Jerman setuju melakukan sesuatu yang terlihat seperti ritual pernikahan dan melegitimasi hubungan tersebut, tapi membungkusnya dengan kata “berkat” agar tidak terlihat menolak ajaran resmi Gereja. Ini mempertanyakan makna berkat itu sendiri. Dengan kata lain, dokumen Fiducia Supplicans justru ditulis untuk menjawab tantangan tersebut.

Fiducia Supplicans adalah jawaban untuk meredam gerakan progresif dari kubu Jerman. Tujuan ini semakin diperkuat oleh wawancara Majalah Pillar dengan Kardinal Fernandez tak lama setelah Fiducia Supplicans terbit. Saat ditanya apakah Fiducia Supplicans berarti tidak ada lagi “teguran bagi konferensi waligereja atau keuskupan yang mencoba mengatur dan meritualkan berkat ini?”, Fernandez menjawab dengan tegas:

Tidak… Segera, sekelompok prefek dikasteri akan memulai perjalanan pertobatan dan pendalaman bersama para uskup Jerman, dan kami akan memberikan semua klarifikasi yang diperlukan. Selain itu, saya merencanakan perjalanan ke Jerman untuk melakukan percakapan yang menurut saya penting.

Jawaban itu cukup jelas bahwa setidaknya sebagian tujuan Fiducia Supplicans adalah untuk menahan kelompok progresif di Jerman, bukan mendorong mereka. Bahkan ketika konferensi uskup Afrika menyatakan keberatan, DDF bekerja sama dengan mereka untuk menulis penolakan mereka! Banyak uskup lain di AS dan seluruh dunia memberi tahu imam mereka untuk tidak melakukan apa-apa, dan Vatikan tidak keberatan. Jika Fiducia Supplicans tujuannya untuk meliberalisasi, mengapa membiarkan para uskup konservatif mengabaikannya? Satu-satunya pihak yang tampaknya "dipaksa" oleh Fiducia Supplicans adalah kelompok Jerman dan orang Eropa utara yang mencoba meritualkan dan melegitimasi hubungan homoseksual.

Namun, tampaknya ada banyak orang yang tidak tertarik membaca isi Fiducia Supplicans atau klarifikasi yang diterbitkan oleh DDF maupun Paus Fransiskus. Banyak orang—dari kedua spektrum ideologis—memiliki kepentingan sendiri untuk tidak memahaminya. Padahal, Fiducia Supplicans adalah dokumen yang sangat ortodoks. Dokumen ini menegaskan kembali ajaran Katolik kuno tentang pernikahan, seksualitas, dan berkat, dan seharusnya diterima oleh semua umat Katolik. Saat Jerman terus bergerak menuju skisma (perpisahan), dokumen ini justru menjadi alat yang membantu memberikan kejelasan terhadap kesalahan mereka.

Daftar Sumber

Víctor Manuel Card. Fernández – Deklarasi Fiducia Supplicans (Tentang Makna Pastoral dari Berkat). Link

Kalung Rosario
Batu Alam Hijau Lumut
Super Premium Dan Panduan Doa Rosario


Kalung Rosario Katolik
Motif Black Marmer



Komentar

download ebook pdf gratissiaran podcast

SIARAN PODCAST!

Postingan Populer