Anatema (Kutukan) bagi Para Penolak Tradisi Suci Dan Ikon Suci Pada Konsili Nicea II



Ikonoklasme Bizantin
Ikonoklasme Bizantin

Pernahkah kamu memperhatikan betapa kayanya gereja-gereja Katolik atau Ortodoks dengan lukisan dan ikon suci? Di balik keindahan visual tersebut, tersimpan sejarah kelam tentang penghancuran, politik kekuasaan, dan perdebatan iman yang sangat tajam. Puncaknya terjadi pada tahun 787 M dalam Konsili Nicea II, sebuah konsili yang menegaskan bahwa menghormati gambar suci bukanlah penyembahan berhala, melainkan sebuah kewajiban iman.

Latar Belakang: Badai Ikonoklasme dan Pengaruh Eksternal

Irene & Constantine II
Irene & Constantine II

Gerakan Ikonoklasme (penghancuran ikon) bukanlah gerakan yang muncul begitu saja secara mendadak. Gerakan ini dimulai oleh Kaisar Leo III dari Bizantium pada tahun 726 M. Namun, jika kita meneliti lebih dalam, ada faktor eksternal yang sangat kuat di baliknya:
  • Tekanan Radikal Islam - Pada abad ke-8, Bizantium berada di bawah tekanan besar akibat penaklukan militer Kekhalifahan yang agresif, yang merebut wilayah-wilayah kekaisaran melalui peperangan dan memaksakan pengaruh budaya serta agama baru dengan darah di tanah jajahan. Kaisar Leo III mengamati bahwa pasukan Muslim, yang mengharamkan segala bentuk gambar dalam ibadah, tampak seolah-olah "diberkati" dengan kemenangan berdarah tersebut. Muncul pemikiran  takhyul di lingkungan istana bahwa keruntuhan pertahanan Bizantium adalah hukuman Tuhan karena umat Kristen dianggap telah jatuh ke dalam dosa "kemusyrikan" melalui penggunaan ikon.

    Kondisi ini diperparah oleh bencana alam seperti letusan gunung berapi Santorini pada tahun 726 M, yang memperkuat rasa takut akan kiamat dan keyakinan bahwa Tuhan sedang murka. Sebagai respons atas kehancuran struktur kekaisaran dan kekalahan perang yang terus berlanjut, Leo III akhirnya terpengaruh takhyul yang terbentuk dari situasi dalam masyarakat sehingga memberlakukan kebijakan Ikonoklasme. Langkah ini diambil sebagai upaya keagamaan yang radikal untuk menghapus penggunaan gambar suci, dengan harapan dapat meredakan kemurkaan ilahi dan memulihkan kekuatan Bizantium di hadapan musuh-musuhnya.
  • Pengaruh Maklumat Yazid II (721 M) - Khalifah Yazid II telah memerintahkan penghancuran gambar di gereja-gereja wilayah kekuasaannya beberapa tahun sebelum Leo III bertindak. Tekanan radikal ini mempengaruhi kebijakan politik Bizantium untuk "memurnikan" Kekristenan agar tidak lagi diserang secara ideologis oleh para tetangganya.

    Akibat kebijakan ini, ribuan mosaik indah dikerok, biara-biara diserang, dan para rahib yang mempertahankan ikon disiksa dan dibunuh dengan keji. Pencopotan ikon Kristus di atas Gerbang Chalke, pintu masuk utama ke istana kekaisaran, tidak hanya melambangkan awal gerakan Ikonoklasme tetapi juga awal dari konflik keagamaan yang penuh kekerasan dan berdarah. Kekacauan ini baru mereda setelah Maharani Irene (Irene dari Athena - seorang Permaisuri Kekaisaran Bizantium) naik takhta dan memprakarsai diadakannya Konsili Nicea II.
Penyiksaan dan kemartiran Uskup Euthymius dari Sardeis yang mencintai ikon oleh Kaisar Bizantium Michael II yang menentang ikon pada tahun 824, dalam sebuah manuskrip abad ke-13.
Penyiksaan dan kemartiran Uskup Euthymius dari Sardeis yang mencintai ikon oleh Kaisar Bizantium Michael II yang menentang ikon pada tahun 824, dalam sebuah manuskrip abad ke-13.

Fondasi Teologis: Misteri Inkarnasi

Para Bapa Konsili di Nicea II memberikan argumen yang sangat mendalam untuk menjawab tuduhan Ikonoklasme. Fondasi utamanya adalah Inkarnasi. Mereka berargumen:

"Karena Allah yang tak kelihatan kini telah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus (Inkarnasi), maka Ia yang kini memiliki tubuh nyata dapat digambarkan secara visual."

Bagi Konsili, menolak gambar Kristus dianggap sama dengan menolak kemanusiaan Kristus yang nyata. Jika Kristus benar-benar menjadi manusia, maka melarang gambar-Nya adalah serangan terhadap kebenaran bahwa Allah sungguh-sungguh telah turun ke dunia dalam rupa manusia.

Pembedaan Penting: Dulia vs. Latria

Untuk menjawab tuduhan penyembahan berhala yang sering dilontarkan oleh pengaruh radikal saat itu, Konsili merumuskan perbedaan teknis yang sangat krusial:
  • Dulia (Veneratio/Penghormatan) - Diberikan kepada ikon, orang kudus, dan malaikat. Ini adalah rasa hormat yang ditujukan kepada sosok yang digambarkan, bukan pada materi kayu atau catnya. Umat diperbolehkan mencium, membungkuk, atau menyalakan lilin di depan ikon sebagai bentuk hormat.
  • Latria (Adoratio/Penyembahan) - Jenis penyembahan ini hanya boleh diberikan kepada hakikat Allah saja (Bapa, Putra, dan Roh Kudus).
Konsili menetapkan Prinsip Prototipe: "Penghormatan yang diberikan kepada gambar akan diteruskan kepada pribadi aslinya." Jadi, siapapun yang menghormati ikon, ia sebenarnya menghormati pribadi yang digambarkan di dalamnya.

Kutukan Resmi (Anatema) bagi Para Penolak

Konsili Nicea II mengeluarkan pernyataan tegas atau Anatema sebagai pagar iman bagi mereka yang berkeras menolak tradisi ini:
  • Terhadap Ikonoklas: "Jika ada orang yang tidak menerima penggambaran secara artistik atas Kristus dalam kemanusiaan-Nya, biarlah ia terkena Anatema."
  • Terhadap Penghina Tradisi: "Jika ada orang yang menolak tradisi Gereja, baik yang tertulis maupun tidak tertulis, biarlah ia terkena Anatema."
  • Terhadap Penyalahgunaan Ayat: "Bagi mereka yang menerapkan ayat-ayat Kitab Suci tentang berhala untuk menyerang ikon-ikon suci Kristus dan para kudus-Nya, biarlah mereka terkena Anatema."
Kutipan teks yang lebih lengkap dan akurat dari Dekrit Iman (Horos) yang dihasilkan pada Sesi Ketujuh Konsili Nicea II:

"Kami menetapkan dengan penuh ketelitian dan kepedulian bahwa, sama seperti tanda dari salib yang berharga dan menghidupkan, demikian pula ikon-ikon suci yang patut dihormati, baik yang dibuat dengan warna maupun mosaik serta bahan-bahan layak lainnya, haruslah ditempatkan di dalam gereja-gereja suci Allah, pada bejana-bejana suci dan pakaian ibadat, pada dinding-dinding dan papan-papan, di rumah-rumah dan di pinggir jalan...

Oleh karena itu, kami menyatakan bahwa mereka yang berani memikirkan atau mengajarkan secara lain, atau yang mengikuti bidaah yang keji dengan menghina tradisi-tradisi Gereja dan menciptakan inovasi-inovasi baru, atau yang menolak apa pun yang telah dipercayakan kepada Gereja (baik itu Injil, tanda salib, gambar yang dilukis, atau relik suci para martir), atau yang dengan niat jahat dan kelicikan merencanakan untuk merusak tradisi-tradisi sah dari Gereja Katolik, atau yang menerapkan ucapan-ucapan jahat dari kaum bidaah tentang berhala kepada ikon-ikon suci:

Jika mereka adalah Uskup atau klerus, kami memerintahkan agar mereka dicopot dari jabatannya; jika mereka adalah rahib atau kaum awam, biarlah mereka terkena ANATEMA (KUTUKAN)."

Tokoh Kunci: Santo Yohanes Damaskus

Para Bapa Konsili di Nicea II tidak merumuskan ajaran baru dari nol. Mereka menggunakan risalah-risalah Yohanes Damaskus, terutama Three Apologies Against Those Who Attack the Divine Images, sebagai landasan utama keputusan mereka. Argumen Yohanes tentang perbedaan antara "penyembahan" (latria) dan "penghormatan" (dulia) diadopsi secara resmi menjadi doktrin Gereja.

Santo Yohanes Damaskus adalah pembela ikon paling vokal yang mendasarkan argumennya pada logika Inkarnasi. Ia mengajarkan bahwa karena Allah telah menjadi manusia (menggunakan materi tubuh), maka materi seperti kayu dan cat tidak lagi jahat, melainkan bisa digunakan untuk mengekspresikan kehadiran Allah.

Dalam risalahnya, ia membedakan dengan tegas antara penghormatan (kepada ikon) dan penyembahan (hanya kepada Allah). Ia juga menyerukan agar umat berpegang pada tradisi Gereja daripada mengikuti otoritas Kaisar. Karena keberaniannya melawan kebijakan kekaisaran dari wilayah pelariannya di bawah Kekhalifahan Umayyah, ia dikutuk oleh Konsili Hiereia (754 M) dan secara politis dijuluki "berpikiran Saracen" oleh lawan-lawannya.

Gereja di Roma, khususnya Uskup Roma (Paus), memiliki peran krusial dalam melindungi ajaran dan nama baik Santo Yohanes Damaskus.

1. Roma Melindungi Santo Yohanes Damaskus
Roma tidak pernah mengutuk Santo Yohanes Damaskus. Sebaliknya, Roma adalah pendukung utamanya.
  • Perlindungan Teologis - Paus di Roma (seperti Paus Gregorius II dan Paus Gregorius III) adalah penentang keras kebijakan Ikonoklasme yang dijalankan kaisar-kaisar Bizantium. Mereka mengirim surat-surat protes kepada Kaisar Leo III dan mendukung posisi teologis yang diajarkan oleh Yohanes Damaskus.
  • Pengakuan sebagai Santo - Roma mengakui Yohanes Damaskus sebagai orang suci dan Pujangga Gereja (Doctor of the Church) karena kontribusinya yang luar biasa dalam mempertahankan doktrin Inkarnasi melalui ikon.
2. Roma dan Konsili Hiereia (754 M)
Konsili Hiereia sering disebut sebagai "Konsili Palsu" atau Latrocinium (Konsili Perampok) oleh Roma dan Gereja Katolik karena beberapa alasan:
  • Tidak Ikut Serta - Paus di Roma tidak mengirimkan utusan ke konsili ini. Karena tidak dihadiri oleh perwakilan dari Roma atau patriark-patriark utama lainnya (Yerusalem, Antiokhia, Aleksandria), Roma menganggap keputusan konsili tersebut tidak sah secara hukum Gereja.
  • Menolak Kutukan - Ketika Konsili Hiereia mengutuk Yohanes Damaskus dan menyebutnya "berpikiran Saracen" atau penyembah berhala, Roma justru secara resmi menolak keputusan tersebut.
  • Konsili Nicea II (787 M) - Roma kemudian mendukung Konsili Nicea II yang membatalkan seluruh keputusan Konsili Hiereia. Dalam konsili ini, nama Yohanes Damaskus dipulihkan sepenuhnya, dan ajaran "Ikonodulisme" (penghormatan ikon) ditetapkan sebagai ajaran Kristen yang benar.
Salah satu ironi sejarah yang paling unik sekaligus "konyol" adalah kenyataan bahwa Santo Yohanes Damaskus secara fisik justru terlindungi karena ia tinggal di Damaskus, Suriah, yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kekhalifahan Umayyah. Di wilayah yang dikuasai Islam yang secara ajaran sangat menentang gambar dan patung,Yohanes justru aman dari jangkauan Kaisar Bizantium yang juga menganut kebijakan Ikonoklasme. Karena berada di luar yurisdiksi Bizantium, Kaisar tidak memiliki kekuatan hukum untuk menangkapnya.

Mukjizat Santo Yohanes Damaskus
Mukjizat Santo Yohanes Damaskus

Ketidakberdayaan ini membuat Kaisar sangat marah. Karena tidak bisa menyentuh Yohanes secara fisik, ia hanya mampu menyerang melalui kutukan lisan di Konsili Hiereia. Namun, kemarahan tersebut juga memicu "serangan balik" yang licik; Kaisar diduga memalsukan surat atas nama Yohanes yang berisi rencana pengkhianatan untuk menyerang Damaskus. Surat palsu ini dikirimkan kepada Khalifah dengan harapan agar penguasa Muslim tersebut mengeksekusi Yohanes atas tuduhan makar.

Meskipun Yohanes sempat mengalami kesulitan besar akibat fitnah ini bahkan tradisi mencatat tangannya sempat dipotong sebelum akhirnya Bunda Maria menyatukannya kembali pergelangan tangannya setelah ia berdoa kepadanya dan akhirnya sembuh secara ajaib. Pada akhirnya, upaya Kaisar untuk melenyapkannya gagal total, dan Yohanes terus menulis dari wilayah perlindungannya yang tak terduga tersebut demi mempertahankan tradisi penggunaan ikon dalam Gereja.

Kesimpulan dari narasi sejarah ini saya tutup dengan satu pertanyaan bagi Anda, para polemikus pemberontak: Masihkah Anda berani berdiri di barisan yang telah dikutuk secara resmi oleh Gereja yang didirikan oleh Yesus sendiri?

Daftar Sumber

  • Brown, Peter. (1973). A Dark-Age Crisis: Aspects of the Iconoclastic Controversy. Link.
  • Denzinger, Heinrich. (2012). The Sources of Catholic Dogma (Enchiridion Symbolorum). Loreto Publications. Link.
  • Haldon, John. (1990). Byzantium in the Seventh Century: The Transformation of a Culture. Link.
  • Schönborn, Christoph. (1994). God's Human Face: The Christ-Icon. Ignatius Press. Link.
  • St. John of Damascus. (1898). On Holy Images. (Trans. Mary H. Allies). London: Thomas Baker. Link.
  • Tanner, Norman P. (1990). Decrees of the Ecumenical Councils. Georgetown University Press. Link.
  • Schaff & Wace. The Seven Ecumenical Councils of the Undivided Church (Nicene and Post-Nicene Fathers, Vol. 14). Link.

Patung/Pajangan
Rohani Kecil Katolik

Patung/Pajangan Rohani Kecil Katolik


Salib Benedictus

Salib Benedictus


Komentar

download ebook pdf gratissiaran podcast

SIARAN PODCAST!

Postingan Populer