Bedah Ilmiah Teologi Katolik: Mengapa Patung Bukan Berhala dan Apa Itu Penyembahan Sejati?

Musa dan Yoshua menyembah Tabernakel
Musa dan Yoshua menyembah Tabernakel

Sering kali umat Katolik dihujani tuduhan "penyembah berhala" oleh pihak-pihak yang gagal memahami definisi teknis dari penyembahan. Mereka hanya melihat fenomena fisik tanpa memahami esensi teologis, akurasi bahasa asli Alkitab, dan konsekuensi logis dari Inkarnasi Tuhan. Artikel ini membedah fakta tersebut secara tuntas.

Kekeliruan terbesar dalam polemik ini adalah mencampuradukkan kata "patung" dengan "berhala". Dalam bahasa asli Alkitab (Ibrani), kata yang digunakan dalam larangan sepuluh perintah Allah (Keluaran 20:4) adalah Pesel.

  • Pesel secara spesifik merujuk pada berhala—yaitu benda yang dibuat dengan tujuan untuk dianggap sebagai tuhan itu sendiri dan disembah sebagai entitas mandiri.
  • Alkitab Terjemahan Baru (TB) yang lebih akurat telah secara konsisten mengubah diksi tersebut dari "patung" menjadi "berhala".
  • Logikanya Alkitab tidak pernah melarang seni pahat (patung), melainkan melarang pembuatan objek penyembahan tandingan (ilah lain). Jika pembuatan bentuk fisik dilarang mutlak, maka perintah Allah untuk membuat dua patung Kerub emas (Keluaran 25:18-20) dan  patung hewan (Bilangan 21:8-9) akan menjadi kontradiksi ilahi. Allah melarang Pesel (berhala), bukan karya seni suci.

Patung Ular Tembaga
Musa Dan Patung Ular Tembaga

Logika Inkarnasi: Allah yang Menjadi Nyata merupakan argumen fundamental bagi penggunaan patung Yesus terletak pada doktrin Inkarnasi. Yesus adalah Allah yang menjadi manusia nyata; Tuhan yang pernah berjalan di dunia secara fisik.

  • Konsekuensi Fisik: Karena Yesus menjadi manusia, Ia memiliki rupa yang bisa dilihat, diraba, disentuh, dan dirasa. Ia bukan lagi roh yang abstrak dan tak terbayangkan.
  • Firman dalam 3 Dimensi: Membuat patung Yesus bukanlah membuat "ilah lain", melainkan menggambarkan Firman yang telah menjadi daging. Jika Tuhan sendiri merendahkan diri-Nya untuk mengambil rupa manusia agar bisa dijamah, maka menggambarkan-Nya dalam rupa tiga dimensi adalah konsekuensi logis dari pengakuan bahwa Ia benar-benar telah menjadi manusia. Patung Yesus adalah proklamasi visual bahwa Tuhan telah beserta kita dalam wujud yang nyata.

Lalu penyembahan umat Katolik dalam rupa apa dan dimana? Penyembahan dalam iman kekristenan sejati maupun bangsa yahudi dalam perjanjian lama harus memiliki 3 syarat mutlak (Latria). Secara ilmiah-teologis, sebuah aktivitas baru bisa disebut sebagai Penyembahan (Latria) jika dan hanya jika memenuhi tiga syarat mutlak struktur kurban: adanya Imam, Altar, dan Kurban (Sacrificium). Alkitab mengonfirmasi hal ini secara konsisten:

  1. Dalam Perjanjian Lama: Pola Kurban yang Tetap.
    Sejak awal, penyembahan kepada Allah selalu melibatkan mezbah dan kurban yang dipersembahkan oleh perantara (Imam).
    • Kejadian 8:20 Nuh mendirikan altar (mezbah) bagi TUHAN dan mempersembahkan kurban bakaran.
    • Keluaran 28-29 Allah menetapkan jabatan Imam (Harun dan keturunannya) secara khusus untuk melayani di altar dan mempersembahkan kurban penghapus dosa. Tanpa kurban yang dibawa imam ke altar, tidak ada penyembahan resmi.
  2. Dalam Perjanjian Baru: Penggenapan dalam Kristus.
    Yesus tidak menghapuskan sistem penyembahan, melainkan menyempurnakannya menjadi satu kurban abadi.
    • Ibrani 8:3 "Sebab setiap Imam Besar ditetapkan untuk mempersembahkan korban-korban dan persembahan-persembahan." Ini menegaskan bahwa fungsi imam tidak bisa dipisahkan dari kurban.
    • Ibrani 13:10 "Kita mempunyai satu altar (mezbah) dan orang-orang yang melayani kemah bakti tidak boleh makan dari apa yang ada di atasnya." Umat Kristen memiliki altar yang nyata, bukan sekadar simbolis.
    • 1 Korintus 10:16-21 Rasul Paulus membandingkan "Meja Tuhan" (Altar Ekaristi) dengan altar berhala. Ia menegaskan bahwa berpartisipasi dalam kurban Tubuh dan Darah Kristus adalah bentuk penyembahan yang nyata.
  3. Dalam Kitab Wahyu: Liturgi Surgawi.
    Bahkan di Surga, penyembahan digambarkan tetap menggunakan pola liturgis.
    • Wahyu 5:6 Yohanes melihat Anak Domba (Kurban) yang seperti baru saja disembelih.
    • Wahyu 8:3 Ada seorang Malaikat datang dan berdiri dekat altar (mezbah) membawa pedupaan emas.

Penyembahan Alkitabiah
Penyembahan Alkitabiah

Jika ketiga unsur ini tidak hadir, maka tindakan tersebut secara teknis bukanlah penyembahan, melainkan penghormatan (Dulia). Mencium patung atau berlutut di depannya tidak bisa disebut penyembahan karena tidak ada Imam, Altar, dan Kurban di sana.

Akan tetapi sebaliknya, inkonsistensi praktik modern "Praise & Worship" merupakan sebuah standar ganda dalam banyak denominasi yang mengklaim bahwa nyanyian emosional dan tarian adalah "penyembahan" (worship). Namun, secara teologis, aktivitas tersebut hanyalah Pujian, yang derajatnya setara dengan Dulia, karena tidak memiliki unsur Altar, Imam, dan Kurban nyata sesuai pola Alkitab.

Adalah sebuah kesalahan logika ketika seseorang menuduh umat Katolik menyembah berhala karena menggunakan sarana fisik (patung), sementara mereka sendiri menggunakan sarana emosional (musik dan visual) dan mengklaimnya sebagai penyembahan. Keduanya secara derajat teologis berada di posisi yang sama: ekspresi kasih yang belum mencapai derajat Latria (Kurban Ekaristis). Tanpa kurban, tindakan di kedua belah pihak hanyalah bentuk penghormatan dan pujian.

Menghakimi umat Katolik berdasarkan terjemahan kata yang salah atau kegagalan memahami doktrin Inkarnasi adalah bentuk kedangkalan berpikir. Jika Anda mengharamkan patung Yesus karena dianggap berhala, maka secara tidak langsung Anda sedang menolak kenyataan bahwa Yesus benar-benar telah menjadi manusia yang memiliki rupa fisik.

Mari kita mulai berani melihat lebih dalam: bahwa penghormatan kepada para kudus melalui patung adalah ekspresi cinta kepada "Keluarga Allah", sedangkan penyembahan sejati hanya terjadi di atas Altar Kurban melalui pelayanan Imam. Tuhan tidak pernah membenci seni; yang Ia benci adalah ketika hati manusia berhenti pada benda tersebut dan lupa mendaki menuju Sang Pencipta yang dilambangkannya.

Daftar Sumber

  • Sumber Linguistik dan Etimologi (Bahasa Asli)
    • Strong’s Exhaustive Concordance of the Bible - Mencantumkan definisi kata Ibrani "Pesel" (Strong's H6459) sebagai gambar pahatan yang dijadikan berhala (Idol), bukan sekadar karya seni (Statue).
    • Alkitab Terjemahan Baru Edisi 2 (Lembaga Alkitab Indonesia) - Sebagai bukti perubahan diksi dari "patung" menjadi "berhala" dalam Keluaran 20:4 untuk akurasi teologis.
  • Sumber Dokumen Gereja (Magisterium & Konsili)
    • Konsili Nicea II (Tahun 787 M) - Dokumen utama yang secara resmi mengakhiri masa Ikonoklasme (penghancuran gambar suci) dan menetapkan perbedaan antara Latria (Penyembahan) dan Dulia/Venerasi (Penghormatan).
    • Katekismus Gereja Katolik (KGK):
      • KGK 2129 - 2132 Menjelaskan dasar Alkitabiah perintah Allah tentang pembuatan simbol (Kerub emas, Ular Tembaga) dan Inkarnasi sebagai pembenaran atas penggunaan gambar suci.
      • KGK 1544 - 1553 Menjelaskan hakikat jabatan Imam dan perannya dalam Kurban.
    • Summa Theologica (Thomas Aquinas) - Bagian III, Pertanyaan 25, Artikel 3; yang membedakan penghormatan kepada patung Kristus sebagai sarana yang mengarah pada prototipe-Nya.
  • Sumber Sejarah dan Apokrifa (Jejak Historis)
    • The Archko Volume (Koleksi W.D. Mahan, 1879) - Kumpulan terjemahan naskah kuno dari perpustakaan Vatikan dan Konstantinopel yang memuat Acta Pilati dan Epistula Lentuli.
    • The Apocryphal New Testament (Montague Rhodes James, 1924) - Referensi akademis standar yang membedah naskah Gospel of Nicodemus (Acta Pilati Bagian II) dan asal-usulnya dari abad ke-4.
    • Nicephorus Callistus Xanthopoulos - Sejarawan Gereja abad ke-14 yang dalam karyanya Historia Ecclesiastica mencatat deskripsi fisik Yesus yang sejalan dengan tradisi naskah Lentulus.
  • Sumber Arkeologi dan Seni
    • Arsip Katakombe Roma (Katakombe Priscilla dan Katakombe Callixtus) - Bukti fisik penggunaan fresko dan ikonografi Kristen perdana (abad ke-2 dan ke-3) yang menunjukkan bahwa umat Kristen awal sudah menggunakan media visual.
    • A.N. Didron, "Christian Iconography" - Karya monumental yang melacak bagaimana deskripsi fisik dalam naskah apokrifa memengaruhi standar seni dunia.

Panduan Menjadi Katolik
Kanisius

Panduan Menjadi Katolik - Kanisius

Komentar

download ebook pdf gratissiaran podcast

SIARAN PODCAST!

Postingan Populer