Martabat Yesus yang Direndahkan dan Diinjak-injak oleh Pikiran Liar Protestantisme
Dunia kekristenan modern, khususnya melalui kacamata Protestantisme yang dangkal, seringkali terjebak dalam upaya sistematis untuk mendegradasi Maria, Sang Theotokos, menjadi sekadar "saluran" yang setelah dipakai kemudian dibuang atau diperlakukan seperti wanita biasa pada umumnya. Tuduhan bahwa Maria adalah seorang pendosa dan memiliki anak-anak lain hasil hubungan seksual dengan Yosef bukan sekadar perbedaan tafsir, melainkan sebuah serangan keji terhadap kekudusan Inkarnasi Tuhan kita, Yesus Kristus. Jika kita mengklaim bahwa Yesus adalah Allah yang Mahakudus, maka logika iman yang lurus akan menuntun kita pada satu kesimpulan mutlak: Bait yang menampung Allah tidak mungkin tercemar oleh syahwat manusiawi atau noda dosa. Menganggap Maria melakukan aktivitas seksual setelah melahirkan Sang Sabda adalah pikiran liar yang tidak hanya porno secara teologis, tetapi juga merendahkan martabat Yesus dengan menuduh-Nya lahir dari rahim yang kemudian menjadi tempat pemuasan nafsu duniawi.
Akar Nubuat: Maria sebagai Bait Allah yang Tertutup
Keagungan Maria sebenarnya telah terpatri sejak zaman Perjanjian Lama melalui tipologi yang tak terbantahkan. Mari kita lihat Musa dalam Keluaran 3:5; ia diperintahkan untuk menanggalkan kasutnya karena tanah tempat ia berdiri adalah tanah yang kudus hanya karena kehadiran Allah dalam semak belukar. Jika sebidang tanah saja menjadi begitu suci hingga manusia berdosa tidak boleh menginjaknya dengan alas kaki, betapa jauh lebih suci rahim Maria yang tidak hanya "didatangi" Allah, tetapi dipersatukan dengan-Nya? Alkitab menegaskan dalam Ibrani 12:29 bahwa Allah adalah api yang menghanguskan. Manusia berdosa akan mati seketika jika berhadapan langsung dengan kemurnian Allah. Maka, adalah sebuah kemustahilan teologis jika Maria yang penuh dosa bisa mengandung Sang Mahasuci tanpa ia dikuduskan terlebih dahulu. Dalam Perjanjian Lama, Uza mati seketika hanya karena menyentuh Tabut kayu (2 Samuel 6:7) karena ketidakkudusannya. Bahkan Nabi Yehezkiel dalam Yehezkiel 44:2 telah menubuatkan bahwa gerbang tempat Tuhan masuk harus tetap tertutup selamanya; gerbang itu adalah rahim Maria yang tidak boleh disentuh oleh manusia lain mana pun setelah Allah bersemayam di sana.
![]() |
| Kecharitomene (Lukas 1:28) |
Inkarnasi: "Penuh Rahmat" dan Misteri Anak Sulung
Allah, melalui rahmat Kecharitomene (Lukas 1:28), telah menyucikan Maria sejak awal agar ia layak menjadi "Istana Sang Raja". Bukti keagungan ini digemakan dalam kidung Magnificat (Lukas 1:46-55), di mana Maria mendaraskan nubuat sebagai Tabut Perjanjian Baru dengan mengutip:
- 1 Samuel 2:1 – Sukacita di Dalam Tuhan.
Dalam Perjanjian Lama, Hana adalah sosok wanita mandul yang akhirnya mengandung karena rahmat Allah. Doa Hana adalah "prototipe" dari Magnificat. - Nubuat - Hana berkata, "Tuhan menggembirakan hatiku... perbuatan-Nya menyenangkan jiwaku." Hana bersukacita karena ia mengandung anak yang akan menjadi nabi besar (Samuel).
- Penggenapan pada Maria - Maria menggemakan ini dalam Lukas 1:47, "Hati-Ku bergembira karena Allah, Penyelamatku." Sebagai Tabut Perjanjian Baru, Maria bersukacita bukan karena anak manusia biasa, tetapi karena Allah sendiri berdiam di dalam rahimnya. Jika Tabut kayu Perjanjian Lama membawa sukacita bagi rumah Obed-Edom (2 Samuel 6:11), maka Maria membawa sukacita keselamatan bagi seluruh dunia melalui janin yang dikandungnya.
- Mazmur 103:17 – Kasih Setia Turun-Temurun.
Ayat ini berbicara tentang sifat kekal dari perjanjian Allah dengan umat-Nya yang bertakwa. - Nubuat - "Kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia."
- Penggenapan pada Maria - Maria mengambil inti dari Mazmur ini dalam Lukas 1:50, "Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia." Sebagai Tabut Perjanjian Baru, Maria adalah saksi fisik bahwa kasih setia Tuhan tidak lagi hanya tertulis di atas batu (Luh Taurat di dalam Tabut lama), tetapi hadir dalam rupa manusia (Yesus di dalam Maria). "Turun-temurun" ini merujuk pada era baru keselamatan yang dimulai dari rahim Maria ke seluruh generasi manusia.
- Mikha 7:20 – Kesetiaan pada Janji Abraham.
Mikha menunjuk pada pemenuhan janji yang telah Allah sumpah kepada para leluhur Israel. - Nubuat - "Kiranya Engkau menunjukkan setia-Mu kepada Yakub dan kasih-Mu kepada Abraham seperti yang telah Kaujanjikan..."
- Penggenapan pada Maria - Maria menutup Magnificat dengan mengacu langsung pada Mikha 7:20 dalam Lukas 1:54-55, "Ia menolong Israel, hamba-Nya... seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya."
Mengapa Ini Membuktikan Maria adalah Tabut Perjanjian Baru?
Analogi ini sangat kuat secara teologis:
- Isi Tabut - Tabut Perjanjian Lama berisi Roti Manna, Tongkat Harun, dan Luh Batu (Hukum). Maria mengandung Yesus yang adalah Roti Hidup sejati, Imam Besar sejati, dan Sang Sabda (Hukum) yang menjadi daging.
- Kehadiran Allah - Dalam 1 Samuel, kehadiran Tuhan melalui Tabut membuat musuh gemetar (1 Samuel 4:5). Dalam Magnificat, Maria menyatakan bahwa melalui kehadirannya (yang mengandung Yesus), Allah "mencerai-beraikan orang-orang yang sombong" (Lukas 1:51). Bisa diartikan secara langsung bahwa kaum pembangkang yang melecehkan "Tabut Perjanjian Baru" itu akan dicerai-beraikan menjadi ribuan denominasi.
- Kesinambungan Alkitabiah - Maria menggunakan kata-kata Hana, Mazmur, dan Mikha untuk menunjukkan bahwa dirinya bukanlah "wanita biasa yang kebetulan lewat". Dia adalah titik temu di mana seluruh janji Perjanjian Lama (nubuat Hana, Mazmur Daud, dan janji Mikha) menjadi nyata secara fisik di dalam tubuhnya.
Menyangkal peran Maria sebagai penggenap nubuat-nubuat ini berarti membutakan diri terhadap struktur Alkitab itu sendiri. Jika seseorang menghargai isi nubuat Hana dan Mikha, maka secara otomatis ia harus menghormati Maria sebagai tempat di mana nubuat-nubuat hebat itu "mendarat" dan menjadi kenyataan.
Mengenai kelahiran Yesus, kaum Protestan sering memelintir istilah "Anak Sulung" dalam Lukas 2:7 seolah-olah itu berarti ada anak kedua atau ketiga. Ini adalah kebodohan teologis. Dalam hukum Yahudi, "Anak Sulung" (prototokos) adalah gelar status bagi setiap anak laki-laki pertama yang membuka rahim, baik ia memiliki adik maupun tidak (Keluaran 13:2).
"Kuduskanlah bagi-Ku semua anak sulung, semua yang lahir terdahulu dari kandungan pada orang Israel, baik pada manusia maupun pada hewan; Akulah yang empunya mereka."
Bahkan jika seorang ibu hanya melahirkan satu anak seumur hidupnya, anak itu tetap disebut "Anak Sulung" karena statusnya yang dikuduskan bagi Tuhan. Mengartikan "Anak Sulung" sebagai indikasi adanya adik kandung adalah bentuk pengabaian sengaja terhadap aturan penamaan Alkitabiah.
Logika sederhana mengenai kekudusan juga bisa kita lihat pada kota Yerusalem. Hingga hari ini, Yerusalem disebut sebagai "Tanah Suci" dan diperlakukan dengan sangat istimewa hanya karena Yesus Sang Sabda pernah berjalan dan hidup di sana dua ribu tahun yang lalu. Sungguh sebuah penghinaan yang keji dan standar ganda yang luar biasa ketika kaum Protestan menghormati tanah Yerusalem namun "meludahi" dan mencampakkan Maria, padahal di dalam rahim Marialah Sang Sabda itu sendiri dikandung, diberi makan dari darahnya, dan dibentuk menjadi daging. Maria bukan sekadar jalan lewat; ia adalah sumber kemanusiaan Kristus. Jika seseorang keluar dari tumpukan sampah yang berlumpur, secara otomatis ia akan menjadi kotor, berlumpur, dan berbau sampah. Jika Yesus lahir dari manusia yang berdosa dan tercemar, maka secara logika ia akan mengenakan "daging pendosa". Namun, karena Allah adalah Kebenaran, Ia menguduskan Maria sehingga Sang Sabda terlahir dari daging yang tidak tercela, murni, dan tanpa noda.
Analisis Theologi, Linguistik dan Yuridis: Mengapa Yesus Tidak Memiliki Saudara Kandung
Ide bahwa Yosef, seorang laki-laki Yahudi yang saleh, berani "menyentuh" Maria secara seksual setelah melihat kemuliaan Allah bertahta di sana adalah sebuah kegilaan yang menghina akal sehat rohani.
- Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru.
Logika "ketidakmungkinan" Yosef menyentuh Maria berakar pada pemahaman bahwa Maria adalah Theotokos (Bunda Allah). Dalam Perjanjian Lama, Tabut Perjanjian adalah tempat kehadiran Allah (Shekhinah). Siapa pun yang menyentuh Tabut dengan tidak layak akan mengalami maut (lih. kisah Uza dalam 2 Samuel 6:7).
Para Bapa Gereja mengajarkan bahwa jika Tabut dari kayu saja begitu kudus, apalagi rahim Maria yang telah menjadi takhta bagi Firman yang menjadi manusia. - Santo Gregorius dari Nyssa berargumen bahwa kehadiran Allah dalam diri Maria menguduskannya secara total, menjadikannya "Taman yang Tertutup" dan "Mata Air yang Termeterai" (Kidung Agung 4:12).
- Santo Yohanes Damaskenus menegaskan bahwa Maria tetap perawan selamanya karena "tidak mungkin bagi seorang suami untuk masuk ke tempat di mana Allah sendiri telah bersemayam."
- Keadilan dan Kesalehan Santo Yosef
Dalam Alkitab, Yosef disebut sebagai pria yang "tulus hati" atau "adil" (Saddiq dalam bahasa Ibrani; Dikaios dalam bahasa Yunani). Keadilan dalam konteks Yahudi berarti ketaatan total pada hukum dan rasa hormat yang mendalam terhadap hal-hal kudus.
Setelah menerima wahyu melalui malaikat bahwa anak dalam rahim Maria adalah dari Roh Kudus, peran Yosef berubah dari "calon suami" menjadi "penjaga misteri Ilahi." - Bagi Yosef, menyentuh Maria secara seksual setelah ia mengetahui bahwa Maria adalah milik Allah sepenuhnya, akan dianggap sebagai tindakan sakrilegi (penistaan terhadap yang kudus).
- Santo Hieronimus, dalam karyanya The Perpetual Virginity of Blessed Mary, menekankan bahwa Yosef bukan sekadar "penjaga" status sosial Maria, melainkan saksi sekaligus pelindung bagi kesucian sang Perawan.
- Makna Kata "Sampai" (Heos / Donec) dan "Saudara Yesus"
Seringkali keberatan muncul dari teks Matius 1:25 ("...ia tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya..."). Namun, para pakar Alkitab Katolik menjelaskan: - Dalam bahasa Alkitab (Ibrani/Yunani), kata "sampai" (heos dalam Yunani) tidak selalu berarti bahwa setelah peristiwa itu terjadi, keadaan berubah. Fokus kata ini adalah menegaskan apa yang terjadi sebelum titik waktu tersebut, tanpa memberi implikasi apa pun tentang apa yang terjadi sesudahnya.
- 2 Samuel 6:23 Dikatakan Mikhal, anak Saul, tidak punya anak sampai hari matinya. Tentu ini tidak berarti ia memiliki anak setelah ia mati.
- Mazmur 110:1 "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Musuh-musuh-Mu Kubuat menjadi tumpuan kaki-Mu." Apakah setelah musuh takluk, Yesus berhenti duduk di sebelah kanan Bapa? Tentu tidak.
- Matius 28:20 Yesus berkata, "Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman." Ini tidak berarti setelah akhir zaman Yesus akan meninggalkan kita.
Dalam konteks Matius 1:25, penginjil hanya ingin menekankan bahwa Yesus dikandung secara ajaib oleh Roh Kudus, bukan hasil hubungan antara Yusuf dan Maria. Matius tidak bermaksud membahas kehidupan pernikahan mereka setelah kelahiran Yesus.
- Keyakinan bahwa Maria tetap perawan selamanya (Ever-Virgin) bukanlah penemuan baru, melainkan keyakinan umat Kristen sejak awal:
- Santo Jerome (Hieronymus) Abad ke-4 - Dalam karyanya The Perpetual Virginity of Blessed Mary, ia membalas argumen Helvidius dengan menggunakan contoh Mikhal (2 Samuel 6:23) di atas. Ia menegaskan bahwa menyebut Yesus sebagai "anak sulung" tidak berarti ada anak kedua, melainkan bahwa tidak ada anak yang lahir sebelumnya.
- Santo Agustinus Abad ke-5 - Ia menulis: "Seorang perawan yang mengandung, seorang perawan yang melahirkan, seorang perawan yang hamil... selamanya perawan."
- Santo Yohanes Krisostomus - Ia menjelaskan bahwa jika Maria memiliki anak-anak lain, Yesus tidak akan menyerahkan ibu-Nya kepada Rasul Yohanes saat berada di kayu salib (Yohanes 19:26-27), melainkan kepada saudara kandung-Nya.
- Kebohongan mengenai "saudara-saudara Yesus" hancur saat dihadapkan pada analisis linguistik dan Hukum Taurat. Ajaran Bapa Gereja (terutama Hieronimus) menjelaskan bahwa kata adelphos dalam bahasa Yunani sering digunakan para penulis Injil untuk menerjemahkan istilah Aram aha, yang merujuk pada kekerabatan luas (sepupu atau keponakan), sebagaimana Lot disebut adelphos Abraham dalam Kejadian 14:14. Faktanya, Matius 27:56 dan Markus 15:40 membuktikan bahwa mereka yang disebut "saudara" Yesus adalah anak-anak dari Maria istri Klopas, bukan Maria Bunda Yesus.
Secara yuridis, bukti tertajam ada pada peristiwa penyaliban (Yohanes 19:26-27). Berdasarkan Hukum Kibbud Av va'Em (Keluaran 20:12) dan kitab Ketubot (Talmud), tanggung jawab utama menjaga janda jatuh mutlak kepada anak laki-laki kandung. Menyerahkan ibu kandung kepada orang lain (seperti Yohanes) sementara ada adik kandung yang hidup adalah pelanggaran hak waris, penghinaan keluarga, dan ilegal menurut standar Yahudi abad pertama. Status Anak Durhaka (Ben Sorer u-Moreh) menegaskan bahwa anak tidak boleh menelantarkan kewajiban rumah tangganya. Jika Maria memiliki anak kandung lain, Yesus akan dicap durhaka dan kurang ajar karena mempermalukan adik-adik-Nya secara publik dengan memberikan hak asuh Maria kepada Yohanes. Namun, karena Yesus adalah pemenuh hukum yang sempurna, tindakan-Nya membuktikan bahwa secara hukum memang tidak ada anak laki-laki lain dari Maria. Karena Yesus tidak mungkin berdosa, maka satu-satunya kebenaran adalah: Maria tidak memiliki anak lain.
![]() |
| Lukisan dinding dari katakombe, Roma, abad ke-4. |
Kesaksian Bapa Gereja dan Arkeologi Perdana
Kesaksian Alkitabiah ini dikonfirmasi oleh sejarah gereja awal. Santo Irenaeus dari Lyon (130-202 M), murid dari Santo Polikarpus (murid langsung Rasul Yohanes), menyatakan bahwa Maria adalah "Hawa Baru" yang ketaatannya menghapus kutuk ketidaktaatan Hawa pertama. Sementara itu, Santo Athanasius (296-373 M) menegaskan dalam tulisannya bahwa Maria tetaplah Perawan, karena tidak mungkin bagi Allah yang menjadi manusia untuk membuka rahim yang kemudian akan digunakan bagi kenikmatan manusiawi. Bukti arkeologi juga berbicara melalui Katakombe Priscilla di Roma (abad ke-2).
![]() |
| Katakombe Priscilla |
Di sana ditemukan lukisan dinding (fresco) tertua tentang Bunda Maria yang menyusui bayi Yesus, membuktikan bahwa umat Kristen perdana sudah menghormati Maria sebagai tokoh suci di tengah penganiayaan. Di Katakombe Petrus dan Marselinus, Maria digambarkan di antara para rasul sebagai "Ratu para Rasul", menunjukkan kedudukannya yang tak tergantikan sejak awal mula kekristenan.
![]() |
| Tanah Suci Yerusalem |
Tantangan Terakhir bagi Para Pengkritik
Menutup tulisan ini, kita harus menyadari bahwa perendahan terhadap Maria berakar dari ketidakmampuan logika manusia memahami kemurnian Allah. Maria adalah "Tanah yang Kudus" yang membuat Musa harus melepas kasutnya. Jika Yerusalem yang hanya pernah disinggahi Yesus saja kita sebut Suci, betapa jauh lebih suci rahim yang telah menyatu dengan Allah selama sembilan bulan? Barangsiapa menghina Maria dengan menyebutnya pendosa atau wanita syahwat, mereka menghina "Bahan Baku" tubuh Yesus. Jika Maria adalah "lumpur dosa", maka tubuh Kristus pun tercemar. Namun, Alkitab tegas: Kecharitomene—ia telah, sedang, dan akan selalu dipenuhi rahmat tanpa sisa noda sedikit pun.
![]() |
| Paradoks Protestantisme |
Kepada mereka yang masih memaksakan pikiran kotor bahwa Bunda Maria melahirkan anak-anak lain, saya berikan satu tantangan sederhana: Tunjukkan satu saja ayat di seluruh Alkitab, dari Kejadian sampai Wahyu, yang secara eksplisit menuliskan kalimat "Maria melahirkan anak lain setelah Yesus" atau menyebut seseorang sebagai "anak kandung Maria" selain Yesus Kristus. Anda tidak akan menemukannya. Yang Anda temukan hanyalah asumsi liar yang lahir dari kebencian teologis. Maria adalah Perawan Abadi, Bunda Allah, dan Bunda bagi semua orang beriman yang menolak merendahkan martabat Sang Juru Selamat melalui pikiran yang porno dan keji.
Daftar Sumber
- Alkitab - Alkitab Deuterokanonika, (Edisi resmi Lembaga Biblika Indonesia / LBI).
- Dokumen Gereja:
- Katekismus Gereja Katolik (KGK):
- Artikel 496-507 - Menjelaskan dogma Keperawanan Abadi Maria.
- Artikel 499 - Secara spesifik menyatakan bahwa persetubuhan tidak pernah terjadi dalam pernikahan Maria dan Yosef.
- Konsili Konstatinopel II (553 M) - Secara resmi memberikan gelar Aeiparthenos (Tetap Perawan) kepada Maria.
- Ensiklik Redemptoris Custos (Penjaga Sang Penebus) oleh Paus Yohanes Paulus II - Dokumen ini memperdalam teologi tentang Santo Yosef, martabatnya, dan hubungannya yang suci dengan Maria.
- Dogma Theotokos (Konsili Efesus, 431 M) - Dasar hukum bahwa karena Maria mengandung Allah, maka ia menjadi ruang kudus yang tak terlanggar.
- Bapa Gereja:
- St. Irenaeus of Lyons (180 M), Against Heresies (Adversus Haereses), Buku III, Bab 22.
- St. Athanasius of Alexandria (318 M), On the Incarnation of the Word.
- St. Hieronimus (383 M), The Perpetual Virginity of Blessed Mary: Against Helvidius. Ini adalah dokumen paling definitif yang membela keperawanan Maria dan kesucian Yosef dari serangan kaum skeptis perdana.
- St. Agustinus dari Hippo (401 M), De Sancta Virginitate (Tentang Keperawanan Suci). Ia mengajarkan bahwa Maria melakukan kaul keperawanan dan Yosef adalah pelindung setia dari kaul tersebut.
- St. Yohanes Damaskenus (730 M), An Exact Exposition of the Orthodox Faith (Buku IV, Bab 14). Ia membahas bagaimana Maria tetap perawan sebelum, saat, dan sesudah melahirkan.
- St. Gregorius of Nyssa (379M), On the Holy Generation of Christ. Memberikan argumen bahwa kehadiran kemuliaan Allah dalam rahim Maria secara otomatis menguduskannya secara permanen.
- Hukum & Tradisi Yahudi:
- The Mishnah, Traktat Ketubot (Mengenai hak-hak janda dan kewajiban anak).
- The Babylonian Talmud, Traktat Kiddushin (Mengenai hukum Kibbud Av va'Em).
- Arkeologi:
- Lowrie, Walter. Art in the Early Church. Pantheon Books. (Mengenai Fresco Katakombe Priscilla).
- Mazar, Amihai. Archaeology of the Land of the Bible.
- Literatur Teologis Modern:
- Scott Hahn - Hail, Holy Queen: The Mother of God in the Word of God. Memberikan penjelasan mendalam tentang tipologi Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru.
- Brant Pitre - Jesus and the Jewish Roots of Mary. Mengupas bagaimana budaya Yahudi abad pertama memandang selibat dalam konteks tugas kenabian dan kedekatan dengan yang Ilahi.







Komentar
Posting Komentar