Misteri Makam Kosong: Penelusuran Dokumen Kuno Mengenai Akhir Hidup Bunda Maria

Ikonografi Tertidurnya Bunda Allah
Ikonografi Tertidurnya Bunda Allah

Misteri mengenai akhir hidup Maria, ibunda Yesus, tetap menjadi salah satu topik paling sakral dalam sejarah Kekristenan. Berbeda dengan para Rasul atau martir lainnya yang makamnya menjadi tempat penyimpanan relikwi tulang belulang, makam Maria dikenal karena satu fenomena unik: kekosongan jasadnya. Berikut adalah pembedahan mendalam berdasarkan dokumen-dokumen yang ada.

I. Dokumen Naratif Kuno: Investigasi Rasul Tomas

Salah satu catatan yang paling terkenal berasal dari literatur yang disebut "Transitus Mariae" (Lintasan Maria). Dokumen ini muncul dalam berbagai fragmen bahasa (Yunani, Latin, Siria, dan Koptik) antara abad ke-2 hingga ke-5.

Status Dokumen: Apokrif Namun Konsisten.
Secara teknis, Transitus Mariae diklasifikasikan sebagai dokumen Apokrif. Dalam studi Alkitab, "Apokrif" berarti dokumen tersebut tidak masuk dalam kanon resmi Alkitab karena muncul belakangan atau penulisnya menggunakan nama samaran. Namun, para sejarawan menemukan sebuah fakta unik: meskipun teks-teks ini ditemukan dalam bahasa yang berbeda (Siria, Koptik, Latin) di wilayah yang sangat berjauhan, "Inti Kejadian" di dalamnya tetap sama.

Hal ini membuktikan bahwa meskipun detail naratifnya mungkin dikembangkan secara puitis, teks-teks tersebut berakar pada tradisi lisan yang sangat kuat dan diyakini oleh seluruh umat Kristen purba di seluruh dunia. Konsistensi lintas bahasa dan wilayah ini menunjukkan adanya memori sejarah kolektif bahwa makam Maria memang ditemukan kosong oleh para Rasul.

Peristiwa Pembukaan Makam.
Dalam teks yang dikaitkan dengan Santo Melito dari Sardis (abad ke-2), diceritakan bahwa ketika Maria mendekati ajalnya, para Rasul secara ajaib dikumpulkan di Yerusalem. Namun, Rasul Tomas yang saat itu sedang mengabarkan Injil di India mengalami keterlambatan.

  • Keterlambatan yang Terencana - Tomas tiba di Yerusalem tiga hari setelah Maria dimakamkan di sebuah makam baru di Taman Getsemani, Lembah Kidron.
  • Permintaan Investigasi - Diliputi rasa sedih dan skeptisisme yang menjadi ciri khasnya, Tomas mendesak para Rasul lainnya untuk membuka pintu makam. Ia ingin memberikan penghormatan terakhir dengan mencium tangan sang Perawan.
  • Hasil Investigasi - Ketika batu makam digulingkan, para Rasul terkejut menemukan bahwa jasad Maria sudah tidak ada. Yang tersisa hanyalah kain kafan (sudarium) yang tertata rapi dan mengeluarkan aroma harum surgawi yang digambarkan seperti perpaduan mawar dan lili.

Bukti Fisik: Sabuk Maria (Sacra Cintola).
Untuk meyakinkan Tomas yang ragu, tradisi mencatat bahwa Maria menampakkan diri saat ia diangkat ke surga dan menjatuhkan sabuk kainnya (cincture) ke tangan Tomas. Relikwi ini hingga kini diyakini disimpan di beberapa lokasi seperti Katedral Prato (Italia) dan Gereja Ortodoks Suriah di Homs. Meskipun secara akademis kisah ini terdapat dalam teks apokrif, keberadaan relikwi kain dari abad pertama ini menjadi saksi bisu bagi iman umat perdana.

II. Dokumen Administratif: Kesaksian di Konsili Kalsedon (451 M)

Selain narasi puitis, terdapat bukti administratif yang kuat dalam dokumen "Euthymiaca Historia". Dokumen ini mencatat dialog penting saat Konsili Kalsedon.

Kaisar Romawi Marcianus dan Permaisuri Pulcheria bertanya kepada Uskup Juvenal dari Yerusalem mengenai keberadaan jasad Maria untuk dipindahkan ke Konstantinopel. Uskup Juvenal menjawab secara resmi:

"Memang benar ada makam di Getsemani, tetapi Maria tidak ada di sana. Berdasarkan tradisi kuno yang kami terima, ia diangkat ke surga. Ketika makamnya dibuka atas permintaan Rasul Tomas, para rasul hanya menemukan kain linennya yang kosong."

Kaisar akhirnya hanya membawa kain kafan yang ditemukan di makam tersebut, memperkuat fakta bahwa Yerusalem sebagai pusat kekristenan awal pun tidak memiliki jasad Maria.

III. Dokumen Kesaksian Lainnya: Catatan Para Murid Rasul

Pada bagian ini, kita menelusuri kesaksian dari tokoh-tokoh yang memiliki rantai hubungan langsung dengan para Rasul, baik melalui tulisan asli maupun tradisi lisan yang dibukukan kemudian.

1. Rantai Kesaksian Santo Polykarpus ke Santo Irenaeus

  • Status Dokumen: Asli (Otentik Secara Sejarah).
  • Penjelasan: Ini adalah bukti terkuat. Rasul Yohanes mendidik Santo Polykarpus, dan Polykarpus mendidik Santo Irenaeus. Tulisan Irenaeus (Adversus Haereses) dari abad ke-2 benar-benar otentik.
  • Kesaksian: Irenaeus menegaskan bahwa Maria adalah "Hawa Baru" yang tidak mengalami kerusakan maut secara permanen. Ia mengajarkan bahwa melalui ketaatan Maria, belenggu maut dipatahkan. Kesaksian ini menghubungkan ingatan Rasul Yohanes langsung ke ajaran Gereja purba tanpa melalui narasi apokrif yang berlebihan.

2. Dokumen Liber Requiei Mariae (Buku Istirahat Maria)

  • Status Dokumen: Apokrif  (Legenda Awal).
  • Penjelasan: Ini adalah salah satu teks tertua dari tradisi Koptik dan Etiopia (abad ke-4), yang berakar dari tradisi lisan murid-murid Rasul Yohanes. Karena Maria tinggal bersama Yohanes, murid-muridnya di Efesus dan Yerusalem menjadi saksi utama.
  • Isi Catatan: Dokumen ini menceritakan perintah Yesus kepada para Rasul untuk membawa jasad Maria ke sebuah taman dan meletakkannya di makam baru. Namun, dengan tegas dinyatakan bahwa saat para Rasul kembali, "tubuh itu telah dipindahkan ke Firdaus."
Simeon blesses the Holy Family
Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibunya, "Lihatlah, anak ini ditakdirkan untuk kejatuhan dan kebangkitan banyak orang di Israel, dan untuk menjadi tanda yang akan ditentang. Dan jiwamu sendiri akan ditusuk pedang, supaya pikiran banyak hati dapat dinyatakan" (Lukas 2:34, 35).

3. Epiphanius of Salamis - Panarion (Buku 3, Bab 78 & 79)

Santo Epifanius adalah seorang cendekiawan teliti yang hidup di Palestina dan Siprus. Penyelidikan mendalam terhadap teks asli Panarion 78, 11-23 mengungkap hasil "investigasi lapangan" yang unik:

  • Investigasi Lapangan - Sekitar tahun 377 M, Epifanius sengaja mencari catatan resmi mengenai kematian Maria namun tidak menemukannya. Ia mengakui bahwa Kitab Suci maupun catatan resmi Gereja saat itu tidak memberikan rincian tentang akhir hayat Maria. Ini membuktikan bahwa pada abad ke-4, tidak ada klaim fisik mengenai keberadaan jasad Maria di mana pun.
  • Tiga Skenario yang Diajukan (Panarion 78:11) - Ia mengajarkan tiga kemungkinan luar biasa:
    • Skenario A (Wafat Normal): "Jika ia mati dan dimakamkan, tidurnya penuh kehormatan."
    • Skenario B (Martir): "Jika ia dibunuh (martir)... jasadnya tetap suci."
    • Skenario C (Tetap Hidup/Diangkat): "Atau ia tetap hidup (tidak mati), karena bagi Allah tidak ada yang mustahil."
  • Kaitan dengan Wahyu: Epifanius mengutip Wahyu 12:14 tentang "perempuan yang diberi dua sayap burung elang besar untuk terbang" sebagai petunjuk kemungkinan Maria diangkat oleh Tuhan agar tidak mengalami kematian.
  • Alasan "Keragu-raguan": Ia bersikap tidak dogmatis untuk melawan bidat Collyridians (Panarion 79) yang menyembah Maria secara berlebihan layaknya dewi. Ia juga menulis bahwa Alkitab "sengaja diam" karena peristiwa tersebut terlalu agung (prodigy) untuk ditanggung pikiran manusia.
  • Kesimpulan: Epifanius adalah "Saksi Keheningan". Ia mengakui secara intelektual kemungkinan pengangkatan Maria jasad dan jiwa namun memilih bersikap rendah hati di hadapan misteri ilahi tersebut.

4. Kesaksian Santo Dionisius si Areopagit (Murid Santo Paulus)

  • Status Dokumen: Pseudo-Epigrafa (Atribusi penulis palsu).
  • Penjelasan: Santo Dionisius adalah seorang hakim yang bertobat setelah mendengar khotbah Santo. Paulus di Athena (Kisah Para Rasul 17:34). Dalam tulisan-tulisan yang dikaitkan dengannya (khususnya De Divinis Nominibus), terdapat catatan mengenai pertemuan para Rasul. Namun, secara konsensus ilmiah, penulis aslinya adalah seorang teolog anonim dari akhir abad ke-5 (disebut Pseudo-Dionisius).
  • Isi Dokumen: Dionisius mencatat bahwa ia hadir bersama Santo Petrus dan Santo Yakobus (saudara sepupu Tuhan) saat pemakaman Maria. Ia menggambarkan bahwa saat itu "semua pemimpin hierarki Gereja" berkumpul untuk melihat tubuh tersebut. Meskipun identitas penulisnya tidak sesuai dengan tokoh abad ke-1, dokumen ini mencerminkan konsensus kuat mengenai kesucian jasad Maria di abad ke-5.

5. Kesaksian Santo Timotius (via Santo Modestus)

  • Status Dokumen: Tradisi Sekunder (Bukan Tulisan Langsung).
  • Penjelasan: Kita tidak memiliki surat asli dari Santo Timotius, namun khotbah Santo Modestus dari Yerusalem (abad ke-7) mengklaim kehadiran Timotius, anak didik kesayangan Paulus, dalam prosesi pemakaman.
  • Bukti Dokumen: Khotbah ini mengutip tradisi yang lebih tua bahwa Timotius hadir dan menyaksikan makam tersebut "diselimuti oleh cahaya ilahi" yang kemudian menjadi kosong. Sejarawan berhati-hati karena jarak 600 tahun antara masa hidup Timotius dan tulisan Modestus, sehingga mengategorikannya sebagai "ingatan puitis" Gereja.

6. Santo John Damascene - Homily on the Dormition

Tulisan Santo Yohanes Damaskus (abad ke-8) sangat krusial untuk dibedah karena ia adalah tokoh yang menyelamatkan arsip sejarah ini. Dalam khotbahnya yang terkenal mengenai Dormition (Tidurnya Maria), ia mengutip secara detail laporan-laporan kuno yang kini sudah sulit ditemukan.
  • Isi Bedah Dokumen: Santo Yohanes Damaskus menegaskan bahwa pengetahuan tentang makam kosong ini bukan sekadar cerita rakyat, melainkan pengetahuan yang dijaga ketat oleh Gereja Yerusalem selama berabad-abad. Ia menceritakan kembali bagaimana para Rasul menyaksikan "keberangkatan" Maria dan bagaimana makam tersebut dibuka (atas desakan Tomas) hanya untuk menemukan kain kafan sebagai bukti fisik.
  • Signifikansi: Ia bertindak sebagai sejarawan yang menghubungkan tradisi lisan kuno dengan catatan sejarah formal. Tanpa khotbah-khotbahnya, rincian mengenai investigasi para Rasul mungkin tidak akan terdokumentasi dengan rapi bagi generasi setelahnya.
Berikut adalah arsip dan informasi sejarah yang diselamatkan melalui tulisan-tulisannya:
  1. Arsip dari Euthymiaca Historia - Santo Yohanes Damaskus mengutip rincian dari dokumen administratif ini, yang mencatat dialog pada Konsili Kalsedon (451 M) antara Kaisar Marcianus dan Uskup Juvenal dari Yerusalem mengenai makam kosong Bunda Maria.
  2. Dokumen Naratif Transitus Mariae - Melalui khotbah-khotbahnya (Homily on the Dormition), ia mendokumentasikan kembali rincian dari literatur kuno abad ke-2 hingga ke-5 yang menceritakan investigasi para Rasul terhadap makam Maria.
  3. Laporan Investigasi Rasul Tomas - Ia menyelamatkan rincian sejarah mengenai keterlambatan Rasul Tomas, pembukaan makam di Getsemani tiga hari setelah pemakaman, dan penemuan kain kafan yang kosong sebagai bukti fisik.
  4. Tradisi Lisan Gereja Yerusalem - Ia bertindak sebagai sejarawan yang mengumpulkan dan membukukan ingatan kolektif serta tradisi lisan yang dijaga ketat oleh Gereja Yerusalem selama berabad-abad agar tidak hilang bagi generasi mendatang.
  5. Kesaksian Fisik Relikwi - Ia juga mencatat informasi mengenai kain kafan (sudarium) yang tertinggal di makam, yang menjadi bukti administratif bagi otoritas kekaisaran saat itu untuk tidak lagi mencari jasad fisik Maria.
Gereja Makam Kudus Santa Maria
Gereja Makam Kudus Santa Maria

IV. Bukti Arkeologi: "Kesaksian yang Diam"

Bukti nyata lainnya ditemukan bukan pada kertas, melainkan pada batu. Arkeolog Bellarmino Bagatti (1975) melakukan penggalian di makam Getsemani dan menemukan:

  1. Struktur makam adalah makam Yahudi asli abad pertama.
  2. Adanya grafiti kuno (grafiti Kristen perdana) yang menghormati Maria di situs tersebut.
  3. Ketiadaan Relikwi Tubuh - Sepanjang sejarah, gereja-gereja mengoleksi tulang martir. Namun, tidak ada satu pun kota di dunia kuno yang pernah mengklaim memiliki tulang Bunda Maria. "Absennya bukti" ini adalah bukti kuat secara arkeologis bahwa jasad itu memang tidak ada sejak awal.

V. Kesimpulan Investigasi Akhir

Secara dokumen, tidak ada satu pun catatan sejarah kuno yang mengklaim memiliki jasad Maria. Semua dokumen, baik yang bersifat naratif (Transitus) maupun administratif (Catatan Konsili), bermuara pada kesimpulan yang sama: Investigasi para Rasul membuktikan makam itu kosong.

Fakta bahwa teks Transitus Mariae (meskipun apokrif) memiliki inti kejadian yang sama di seluruh dunia purba menunjukkan bahwa peristiwa ini bukan sekadar karangan satu orang, melainkan keyakinan universal yang berakar dari para saksi mata pertama. Digabung dengan bukti fisik ketiadaan relikwi tubuh di mana pun, hal ini memperkuat memori sejarah bagi umat Kristen perdana bahwa Bunda Maria telah diangkat ke surga.

Daftar Sumber

  • Transitus Mariae (The Discourse of St. John the Divine): Link1, Link2.
  • On the Dormition of Mary - Early Patristic Homilies: Link.
  • Stephen J. Shoemaker, Ancient Traditions of the Virgin Mary’s Dormition and Assumption. Link.
  • St. John Damascene - Homily on the Dormition: Link.
  • St. John Damascene on the Dormition and Assumption of Mary - The Homilies, Narrative Tradition, and Doctrine by Eric Lafferty: Link.
  • Epiphanius of Salamis, Panarion (Book 3, Chapters 78 & 79): Link.
  • Bellarmino Bagatti, "The Church from the Circumcision": Link.
  • St. Irenaeus, Against Heresies: Link: New Advent
  • Munificentissimus Deus: Link: Vatican Official Archive


Grateful - Kalung Cross Medali Wasiat Bunda Maria
Gold Aksesoris Rohani Kristen Katolik

Komentar

download ebook pdf gratissiaran podcast

SIARAN PODCAST!

Postingan Populer